Gereja Paroki St Theresia Lisieux Boro
Misa Harian pukul 05.30 WIB (B. Indo)
Sabtu sore pukul 16.00 WIB (B. Jawa)
Minggu pagi pukul 07.00 WIB (B. Indo)
Jumat pertama pukul 18.00 WIB (B. Indo)

Gereja St Ignatius Loyola Samigaluh (wilayah 11)
Sabtu Pon pukul 17.00 WIB
Minggu Wage/Pon pukul 07.00 WIB
Jumat Pertama setiap Kamis pertama pukul 17.00 WIB
Khusus untuk Sabtu Kliwon Misa diadakan di Kapel Sumbo atau Kemiriombo (gantian) pada pukul 17.00 WIB

Gereja St Maria Assumpta Gorolangu (wilayah 12)
Sabtu Kliwon/Pahing/Wage pukul 15.000 WIB
Minggu Pahing/Wage pukul 07.00 WIB
Jumat Pertama setiap Kamis pertama pukul 15.00 WIB

Gereja St Yusup Balong (wilayah 10)
Sabtu Pon pukul 15.000 WIB
Minggu Kliwon/Pon/Legi pukul 07.00 WIB
Jumat Pertama setiap Kamis pertama pukul 15.00 WIB
Khusus hari Sabtu Legi Misa diadakan di Kapel Kaliwunglon pukul 15.00 WIB

Gereja St Lucia Kalirejo (wilayah 9)
Sabtu Pon/Legi pukul 17.00 WIB
Minggu Pon/Kliwon/Legi pukul 07.00 WIB
Jumat Pertama setiap Kamis pertama pukul 17.00 WIB

Peziarahan Rm. Prennthaler SJ
Malam Selasa Kliwon pukul 18.00 WIB
Malam Jumat Kliwon pukul 18.00 WIB

Sekretariat



Gereja Theresia Liseux Boro disebut juga sebagai Gereja Boro karena lokasinya yang berada di Komplek Misi Boro. Di dalam Komplek Misi Boro juga terdapat bangunan lain seperti pastoran dan kantor pengelola gereja, Rumah Sakit Santo Yusup, Susteran St. Fransiskus Boro, Bruderan F.I.C Boro, Panti Asuhan Sancta Maria Boro, Pertenunan Sancta Maria dan Sekolah Pangudi Luhur (SD-SMP). Dalam sejarahnya, Gereja Theresia Liseux Boro mulai dibangun pada tanggal 31 Agstus 1931. Sebelum dibangun Gereja Boro, Boro awalnya merupakan bagian dari stasi-stasi Kalibawang yang dilayani oleh Paroki dari Muntilan, Magelang. Kehidupan kegamaan di sana mulai hidup kembali ketika Romo J. Prenthaler, S.J. ditugaskan sebagai pembimbing wilayah Boro. Komplek Misi Boro sendiri terdiri dari beberapa bangunan seperti gereja, susteran, panti asuhan, pabrik tenun, bangunan Bruderan F.I.C Boro, bangunan Taman Kanak-Kanak, dan Sekolah Dasar “Marsudirini”, serta Sekolah Menengah Pertama “Pangudi Luhur”.

Pembangunannya sendiri berlangsung dari tahun 1928 hingga 1938 dengan bangunan pastoran sebagai bangunan pertama yang dibangun. Pembangunan dilanjutkan ke bangunan-bangunan lain hingga panti asuhan yang menjadi bangunan terakhir yang dibangun. Sumber dana yang digunakan untuk membangun Komplek Misi Boro diperoleh dari bantuan Belanda, mengingat biaya yang diperlukan tidak sedikit pada saat itu. Namun demikian, Romo J. Prenntahaler, S. J. tidak ingin terlalu banyak bergantung pada Belanda, sehingga ia mendirikan perkumpulan untuk menggalang dana dari para donator, yaitu Serikat St. Klaver, Rooms Katholieke Meisjes Hogere Burger School (Sekolah Tinggi Katolik Roma untuk pada Pemudik) yang ada di Amsterdam, Belanda. Dalam perkembangannya, dana yang dibutuhkan untuk pembangunan gerea ternyata kurang. Akhirnya, Romo J. Prennthaler memilih untuk menutupi kekurangan dana tersebut dengan mengambil dana pribadinya dari hasil menulis artikel di majalah Fahne Mariens, Ktaholische Mariens, serta menggalang dana dari tokoh-tokoh Katolik yang lain sekaligus menjual perangko. Selain itu, umat Katolik yang ada di Kalibawang juga ikut andil dalam pembangunan Komplek Misi Boro tersebut. Mereka juga berpartisipasi menggalang dana untuk pembangunan meskipun tidak banyak. Lambat laun, kerjasama segala unsur masyarakat tersebut mampu membuat Komplek Misi Boro berdiri hingga saat ini.

Secara khusus, Gereja Boro baru dibangun pada bulan Juni-Juli 1928. Pastoran dan Gereja Boro adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, mengingat bangunan gereja baru didirikan satu tahun kemudian setelah bangunan pastoran berdiri. Pembangunnanya sendiri dilakukan pada tahun 1929 dengan melibatkan beberapa tokoh perintis pembangunan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran yaitu Dr. Schmutzer dan seorang arsitek bernama Maclaine Pont. Awalnya, Dr. Scmutzer mengajukan gagasan untuk membangun Gereja Baru sebagaimana arsitektur gereja-gereja di Eropa. Ide tersebut oleh Romo J. Prennthaler ditolak karena dirasa tidak mencerminkan kondisi sosial budaya masyarakat di Boro. Gereja juga dibangun dalam teras-teras dengan bagian tertinggi sebagai altar, kerangka dari bahan besi, dan tinggi fasad mencapai 16-20 meter. Gereja juga menggunakan penutup berupa dinding, tetapi lebih cenderung terbuka seperti pendopo.