Harian
05.30
Jumat Pertama
05.30
Sabtu
Sore / Malam 17.00
Minggu
Pagi 5.30 | Pagi 7.30 | Sore / Malam 17.00

Sekretariat



Sejak awal, bangunan Gereja Santo Yusup di Kampung Bintaran, Yogyakarta, sudah memikat perhatian orang. Bentuk gedungnya khas, berlainan dengan bangunan gereja lain di masa itu. Bangunan tadi lebih dikenal sebagai “Gereja Jawa Pertama di Yogyakarta”. Mengapa disebut sebagai Jawa? Pertama, karena sejak awal bangunan gereja tadi memang dikhususkan bagi masyarakat katolik Jawa.
Gagasan mendirikan gereja di Bintaran ini berawal dari keprihatinan akan keterbatasan ruang gereja yang ada di Gereja Santo Frasiskus Xaverius Kidul Loji. Pada waktu itu, Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji masih didominasi oleh jemaat yang terdiri dari orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Orang-orang kulit putih menempati bangunan utama gereja, sedangkan jemaat orang-orang pribumi Katolik memilih menempati gudang sisi timur gereja.

Pembangunan gereja dimulai pada tahun 1933, dan kontraktor pelaksananya dilakukan oleh sebuah perusahaan bangunan milik Belanda bernama Naamloze Vennootschap (NV) “Hollandsche Beton Maatschappij”. Luas bangunan gereja adalah 720 m² yang berdiri di atas lahan seluas 5024 m². Gedung gereja ini diresmikan pada hari Minggu, 8 April 1934. Peresmian gereja dilakukan oleh Mgr. A. Th. Van Hoof SJ, Vikaris Apolistik didampingi oleh Pastor Van Kalken SJ, Kepala Misi Jesuit di Jawa dan Pastor G. Riestra SJ, Pastor Kepala di Yogyakarta.

Kini, Gereja Bintaran menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh negara berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs Dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala Yang Berlokasi Di Wilayah Propinsi DIY Sebagai Benda Cagar Budaya Atau Kawasan Cagar Budaya.
Lingkungan :
Wilayah :
Batas
Utara : Paroki Baciro
Selatan : Paroki Kidul Loji dan Paroki Pugeran
Timur : Paroki Pringgolayan
Barat : Paroki Kidul Loji