Jadwal Misa klik disini

Sekretariat



Komplek Pastoran Brayut - SL Yohanes Paulus Il terdiri dari tiga bangunan, yakni Gedung Rumah Pastor, Joglo, dan Limasan. Pembangunan kompleks ini dimulai pada 14 November 2016. Walaupun di beberapa hal menghadapi berbagai kendala, namun pembangunan komplek ini terlaksana dengan baik, aman, dan lancar. Akhirnya, komplek ini diberkati oleh Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pi pada 20 Juli 2017.

Komplek Pastoran Brayui merupakan sebuah model paroki yang mengakomodasi Konsep Gereja Diaspora, di mana paroki tidak lagi sebagai pusat liturgi dan non liturgi, tetapi sebagai pusat administrasi dan tempat terbuka (inklusif) untuk kegiatan umat beriman dan masyarakat luas majemuk Komplek Pastoran Brayut mengakomodasi semua kegiatan umat dan masyarakat luas majemuk, terutama masyarakat Brayut, Nyamplung, dan sekitarnya Kegiatan itu mencakup kearifan lokal seperti seniebudaya pertanian, pelestarian lingkungan, toleransi terhadap keberagman, dan semua kegiatan masyarakat lintas iman untuk merajut kebersamaan.

Secara jangka panjang, keberadaan Pastoran Brayut adalah untuk mewujudkan Peradaban msih, seperti yang telah dicanangkan oleh Keuskupan Agung Semarang (KAS) dalam RIKAS dan ARDAS-nya Peradaban Kasih yang dimaksud adalah mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang beriman, bermartabat, dan sejahtera.

Pada 16, 19, dan 20 Juli 2017, telah diadakan rangkain kegiaran berkaitan dengan gelar budaya, bazar, bakti sosial, kenduri syukur, dan pemberkaran Komplek Pasroran Brayut. Seluruh rangkaian acara relah berlangsung secara aman dan lancar. Sambutan masyarakat Brayut, Nyamplung dan sekiramya, serta atensi dari umat beriman awam PFW Sr. Yohanes Paulus II sangar posirif dan berani. Acara Jatilan dan Wayang Kulit misalnya, sangar menarik perharian masayarakar luas. Beegiru pula acara Bakti Sosial dan Bazar, telah menyerap banyak pengunjung.

Dalam kesempatan itu, Bapak Catur Sariumiharra, Kepala Desa Pandowohario, Sleman, berkenan membuka seluruh rangkaian acara dan meresmikan penggunaan Joglo IV, Brayut "Masyarakat Brayut, sudah menjadi contoh yang baik dalam praktik toleransi keberagaman Indonesia. Contoh baik ini hendaknya terus dikelola keberlanjutannya," tegas Bapak Catur pada buglan sambutannya. Selain itu, beliau juga menyebutkan bahwa; "Komplek Pastoran Brayut, merupakan pastoran stu-satunya di dunia yang ada Joglo-nya "

Dalam Agenda Besarnya, Dewan Pengurus PFW St. Yohanes Paulus II telah menyusun berbagai kegiatan berkaitan dengan seni dan budaya, pertanian, pendidikan, pengelolaan sampah, usaha-usaha masyarakat, wisara desa, dan berbagai kegiatan religiositas lintas iman.

Sembari itu, di beberapa bagian komplek sedang diadakan tambahan bangunan kelengkapan fisik, seperti pembuatan sistem penirisan air permukaan dan peresapan, penataan taman, serta pembuatan area pertanian dan tanaman sayur. Diharapkan,s emua kelengkapan fisik dan semua sarana yang ada dapat menunjang secara optimal semua kegiatan umat beriman dan masayarakat luas majemuk, menuju pada Peradaban Kasih. Amin.
Sebagai bagian dari upaya perwujudan ide pemekaran dan pengembangan Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati, dibangunlah pastoran atau rumah pastur di Dusun Brayut Pandowoharjo Sleman.Paroki Mlati dikembangkan dengan latar belakang yang bersifat normatif dan alasan tertentu.Setelah mendapatkan restu dari Keuskupan Agung Semarang,dalam hal ini adalah mendiang Bapak Uskup Mgr.Y. Pujasumarta, maka dilakukan pengajuan data-data pendukung kepada Keuskupan. Setelah pengajuan maka Keuskupan melakukan visitasi.

Pastoran berdiri berdasarkan konsep paroki diaspora, yang konon digagas pertama oleh mendiang Romo YB. Mangun Widjaya, Pr. Latar belakang menggunakan gagasan paroki diaspora, karena wilayah lima wilayah yang akan menjadi bagian dari paroki tersebut telah memiliki gedung gereja, jadi nanti posisi atau status dari gereja tersebut sama atau tidak ada gereja induk. Namun sejauh pengetahuan penulis, belum ada paroki yang dikelola dengan sistem diaspora di Keuskupan Agung Semarang. Kemungkinan pastoran ini merupakan pastoran pertama sebagai paroki diaspora.