Harian
18.30
Jumat Pertama
05.30
Sabtu
06.00
Minggu
07.00

Sekretariat



Benih kekatolikan yang tertanam itu makin hari makin tumbuh dan mekar.
Mulanya,wilayah Paroki Kelor berada di bawah Paroki Wonosari. Pada tahun 1935 jerih payah Pak Darmo membuahkan hasil panenan yang pertama dengan dipermandikannya Bapak Satijo Suwitowiharja dan Ibu Wasiyah Suwitowiharjo (anak Menantu Mbah Karsaikrama), kemudian tahun 1938 menyusul Bapak Karsaikrama dan Ibu serta Sadun dan Satijan puteranya dipermandikan. Pada tahun 1960-1966, Gereja Kelor mengalami perkembangan yang luar biasa. Faktor yang menyebabkan perkembangan ini antara lain karena kharisma dan figur Pak Darmo, serta tradisi pangruktiloyo umat Katolik berbeda dengan yang lainnya. Pada waktu itu, apabila ada umat yang meninggal dunia, Pak Darmo dan umat Katolik yang lain bergotongroyong, mendoakan, dan mengantar jenazah dari rumah sampai proses pemakaman selesai.

Pada tahun 1971 kapel mulai dibangun. Tahun 1973 , dengan pengguntingan pita oleh Bapak Camat Karangmojo, Bapak S. Kadiran dan pembukaan kunci gereja serta pemberkatan gereja maka resmilah gereja Kelor dipakai sebagai tempat ibadah. Bapak Kardinal berkenan mengambil nama Petrus dan Paulus sebagai pelindung gereja Kelor karena saat itu kebetulan sekali adalah hari raya Santo Petrus dan Paulus.

Sejak tanggal 29 Juni 1973 resmilah gereja ini mengambil nama santo pelindung Petrus dan Paulus.

Tanggal 15 Maret 2006 Dewan Paroki diberi kesempatan untuk bertemu dengan Bapak Uskup untuk membicarakan masalah pengukuhan paroki. Dalam pertemuan tersebut Mgr I Suharyo berkenan mengukuhkan paroki administratif Kelor menjadi paroki yang definitif pada tanggal 2 Agustus 2006.
Lingkungan :
Wilayah :
Batas
Utara : Paroki Cawas dan Paroki Bayat
Selatan : Paroki Wonosari
Timur : Paroki Danan
Barat : Paroki Wonosari