Harian
05.30
Jumat Pertama
05.30
Sabtu
Sore / Malam 17.00
Minggu
Pagi 5.30 | Pagi 7.30

Sekretariat



Pendidikan di Muntilan turut menyumbang benih kekatolikan di daerah Mlati dan sekitarnya. tahun 1914, ada 4 orang yang dibaptis. Selanjutnya, melalui jalur pendidikan pula, Rm Strater berhasil menanamkan benih-benih iman kekatolikan.

Pada tanggal 8 Desember 1931 pada Pesta Bunda Maria tak Bernoda kapel diberkati dalam sebuah ekaristi. Dalam perkembangannya, kapel ini tidak lagi bisa menampung umat. dipikirkan untuk memperbesar kapel ini. Namun karena berbagai pertimbangan, kahirnya gereja di bangun di tempat lain, yaitu di Mlati yang lebih strategis.

Dimulailah pembangunan gereja tahun 1935. Pemberkatan gereja terjadi pada hari Minggu Pahing 26 Juli 1936 (atau tanggal 6 Jumadilawal 1867 tahun Alip Windu Adi). Pada saat acara itu Mgr. P. Willekens SJ didampingi oleh Rm. Van Baal SJ dan Rm. Fr. Strater SJ.

Dalam buku Panca Windu Gereja Mlati halaman 41 disebutkan bahwa “sekitar tahun 1952 urusan Gereja disempurnakan sehingga Mlati tidak lagi menjadi Stasi dibawah Kotabaru, tetapi ditetapkan sebagai Paroki Mlati. Baru pada tanggal 1 Januari 1955, Paroki Mlati dilepas dari Kotabau sama sekali harus berdiri sendiri, karena umat sudah dipandang mampu mengurus kebutuhan Paroki kecuali bila pembangunan atau reparasi besar-besaran”. Tulisan itu bertentangan dengan kenyataan bahwa paroki Mlati baru mempunyai pastor paroki pertama kali pada tahun 1960 yakni sejak Rm. A. Wignyamartaya, Pr ditetapkan sebagai Pastor Kepala Paroki dan baru menetap di Pastoran Mlati tahun 1961. Maka besar kemungkinan yang dimaksud dalam buku PWGM itu adalah bahwa Mlati menjadi stasi mandiri tahun 1955 dan baru pada tahun 1960 menjadi Paroki.
Lingkungan :
Wilayah :
Utara : Paroki Medari
Selatan : Paroki Nandan
Timur : Paroki Banteng
Barat : Paroki Medari dan Paroki Klepu