Harian
05.30
Jumat Pertama
Sore / Malam 16.00
Sabtu
Sore / Malam 16.00
Minggu
Pagi 5.30 | Pagi 7.30

Sekretariat



Mengikuti perjalanan sejarah umat Katolik di Nanggulan terlihat bahwa campur tangan Tuhan terjadi melalui banyak cara dan banyak orang. Ternyata di tempat ini (Nanggulan) dipertemukan dua arus besar pewartaan misi yaitu Misi yang bersumber dari Mendut → Boro → (Kenteng) Nanggulan, dan kemudian Misi yang tahun-tahun berikutnya mengalir kuat dari Yogyakarta (Kotabaru) → Gubug/Sedayu → Wijilan (Nanggulan).
Perekmbangan umat perlahan meningkat. Dirasa perlu memiliki Gereja sendiri. Setelah mengalami perjuangan berat, akhirnya peletakan batu pertama bangunan dilakukan pada tanggal 13 Januari 1936.

Gereja yang berdiri di Karang ini diberi nama Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bercela. Gedung gereja ini diberkati oleh Bapa Uskup Mgr. P.J. Willekens, SJ, Vikaris Apostolik Batavia ( Keuskupan Batavia ) pada tanggal 5 Juli 1936.

Setelah gedung gereja diberkati oleh Mgr. Willekens dan digunakan sebagai tempat ibadah resmi umat katolik, maka sejarah gereja Nanggulan mulai dengan sejarah pelayanan yang sedikit lepas dari Boro. Umat tidak lagi mengikuti misa di Boro tetapi dilayani oleh romo-romo yang tinggal di pastoran Boro. Namun begitu seluruh pelayanan administrasi (baptisan, krisma, perkawinan, dll) masih menjadi satu dengan Boro.

Gereja Nanggulan mulai menjadi paroki sendiri pada tanggal 25 Maret 1956, yang ditandai dengan pembentukan Pengurus Gereja Papa Miskin (PGPM) Paroki Nanggulan.
Lingkungan :
Wilayah :
Batas
Utara : Paroki Boro
Selatan : Paroki Wates
Timur : Paroki Klepu
Barat : Paroki Purworejo, Keuskupan Purwokerto