Prosesi Perarakan Maria Lourdes di Sendangsono

Sendangsono masih menjadi tempat dimana karya misi gereja coba dihidupi dan dilestarikan karena turut memberi warna sejarah dalam karya misi di Keuskupan Agung Semarang, dan dalam perjalanan waktu saat ini di tempat peziarahan goa Maria Sedangsono atau yang sering di sebut gua Maria Lourdes Van Java ada lima prosesi yang dihidupi dan terus dihayati, yakni prosesi di bulan Mei atau bulan Maria dan Oktober atau bulan Rosario. Prosesi tersebut adalah prosesi bunda Maria Lourdes dimana  perjalanannya dimulai dari gereja untuk menyambut  kehadiran bunda kemudian bunda diajak untuk berjalan mengunjungi rumah masing-masing warga yang ditandai dengan perjalanan dari padusan sampai ketempat peziarahan atau di Groto sendangsono, sedangkan waktu pelaksanaannya adalah malam minggu kedua di bulan Mei dan Oktober.

Sejarah Prosesi Bunda Maria
Bapak Yohanes Setianto, selaku manager goa Maria Sendangsono menyampaikan, prosesi Maria Lourdes di selenggarakan setiap bulan sejak tahun 1977, setiap tahun diselenggarakan 2 kali, bulan Mei dan tanggal 14 Agustus untuk memperingati Maria diangkat ke sorga, namun sampai tahun 90-an prosesi berhenti.  Pada tahun 2012 dihidupkan kembali saat Keuskupan mengembangkan budaya devosi , ditambah dengan Maria Dolorosa dan Sakramen Maha Kudus.

Khazanah Iman Prosesi Perarakan
Kasanah iman yang ada disini tidak hanya jalan salib, tidak hanya doa di Groto, tetapi kita juga punya kasanah iman dalam bentuk prosesi untuk menghayati kebersamaan ziarah kita dalam arti gereja bersama bunda Maria untuk mengalami peristiwa kasih Tuhan.

Dengan prosesi ini diharapkan umat akan terbantu juga melihat realita, contohnya prosesi bunda Maria Lourdes yang diselenggarakan pada Sabtu malam (12/10/2019) dipimpin oleh romo Agustinus Tejo Kusumantono, Pr, harapannya umat semakin menghayati benar bahwa di rumah itu bunda Maria hadir, sebagaimana dalam khazanah Kitab Suci, Maria mengunjungi Elisabeth saudarinya, hal ini yang ingin ditawarkan dan dihidupi bersama.

Yang menarik saat membaca khazanah bunda Maria mengunjungi Elisabeth,  itu di hayati dan ditandai dengan perarakan bunda Maria Lourdes , dalam prosesi tersebut kita akan secara pelan-pelan mengalami kebesaran Tuhan, dimana Elisabeth melonjak kegirangan karena bunda Maria tidak sekedar hadir, tetapi hadir sebagai bunda yang sejati, itulah yang menjadi kekuatan yang ditawarkan.

Dalam satu tahun ada empat  prosesi bunda Maria, di bulan Mei dan Oktober di selenggarakan perarakan bunda Maria yang menampakan diri di Lourdes atau perarakan bunda Maria Lourdes.  Disamping prosesi bunda Maria Lourdes juga dihayati warisan iman dalam bentuk prosesi bunda Maria Dolorosa atau Mother Dolorosa atau Maria tujuh kedukaan, untuk prosesinya biasanya dihayati di masa-masa prapaskah yakni dimalam minggu kedua dalam masa pra-Paskah dan prosesi agung Maria Dolorosa dijalani pada Jumat Agung pukul 12.00 wib, prosesi di awali dari gereja sampai ke Sendangsono, dengan menjalani satu prosesi  yakni prosesi jalan Salib untuk merenungkan tujuh kedukaan bunda Maria.

Dan ada satu prosesi lagi yakni prosesi sakramen Maha Kudus, biasanya dijalani dari gereja ke Sendangsono, prosesi ini dihayati dan dilaksanakn pada malam hari menjelang kenaikan Tuhan.

Untuk minggu yang kedua, setelah ekaristi di lanjutkan dengan selawatan, karena di minggu yang kedua ada istilah misa tirakatan, setelah misa penerimaan komuni, Adorasi,  kemudian imam memberikan berkat lalu Adorasi dilanjutkan oleh pro diakon kemudian ditutup dengan selawatan.

Dalam selawatan terlihat inkulturasi budaya Jawa , karena sebagai warisan generasi awal mbah Barnabas Sarikromo , bagaimana sebuah pewartaan dikemas dalam budaya kultur masyarakat Jawa yang berkembang di Sendangsono, dan yang di pilih adalah Slaka, selawatan Katolik.  Kisah-kisah dalam kitab suci “dibahasakan” dengan selawatan Katolik dan dimulai dari kisah penciptaan sampai kisah penebusah Tuhan Yesus.  Tradisi Slaka ini mendapat pengakuan di kabupaten Kulon progo bahwa di tempat ini (Sendangsono) menjadi cikal bakal selawatan Katolik.

Yang sangat kelihatan dari kasanah inkulturasi ketika Hari Pangan Sedunia (HPS), karena dari segi iringan di pilih kearifan lokal yaitu gamelan , kemudian dari semula berupa lomba-lomba dan makan bersama, pelan-pelan dihayati juga untuk tahun 2019 diadakan merti bumi, untuk merawat ibu pertiwi , sebagaimana titah di bumi ini sebagai ciptaan kita mempunyai ibu yang secara dunia memberi kehidupan pada kita.  Untuk tahun 2019 promulgasinya tidak ada, maka HPS diselenggarakan untuk menghidupi novena 90 tahun pemberkatan Sendangsono.

Disampaikan pula oleh romo Agustinus Tejo Kusumantono, Pr , dulu tradisi gunungan yang hanya sekedar gunungan, kini diberi makna, mulai gunungan romo Prennthaler S.J, yang menciptakan Sendangsono, gunungan romo Van Lith, gunungan mbah Barnabas Sarikromo, dan gunungan romo Mangunwijaya.

Ada tradisi yang baru yaitu tradisi padusan, ada kerinduan untuk menampilkan wajah padusan di Groto Lourdes, padusan terletak sebelum pemberhentian pertama, terdapat tiga titik, antara lain kolam keceh, kolam basuh, pancuran, dan rendam

Disamping prosesi bunda Maria Lourdes juga dihayati warisan iman dalam bentuk prosesi bunda Maria Dolorosa Mother Dolorosa atau Maria tujuh kedukaan untuk prosesinya biasanya dihayati di masa-masa prapaskah yakni dimalam minggu kedua dalam masa prapaskah dan prosesi agung Maria de lorosa dijalani pada jumat agung pukul 12.00 dari gereja smpai ke sendangsono dengan menjalani satu prosesi  yakni prosei jalan salib untuk merenungkan tujuh kedukaan bunda Maria.

Dan ada satu prosesi lagi yakni prosesi sakramen maha kudus biasanya dijalani dari gereja ke tempat ini dan dihayati dan dilaksanakan pada malam hari menjelang kenaikan Tuhan.

Galeri foto klik disini

Agustinus Suseno

1 thought on “Prosesi Perarakan Maria Lourdes di Sendangsono

Leave a Reply