Menjadi Gereja yang Transformatif, Pemekaran Kevikepan Yogyakarta

Hari yang bersejarah kembali terukir di Keuskupan Agung Semarang, tepatnya pada Rabu, 07 Oktober 2020. Bertempat di Paroki Santa Maria Bunda Penasehat Baik Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, diselenggarakan acara perayaan HUT Keuskupan Agung Semarang ke-80, perayaan HUT Kevikepan Yogyakarta ke-54 dan pemekaran kevikepan Yogyakarta.

Hadir pada acara ini Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili oleh Bapak Drs. Tri Mulyono, M.M. dan Bupati Kulon progo Bapak H, Sutejo Wiharso, para imam, suster, frater serta umat yang diundang terbatas karena penerapan protokol kesehatan.

Tujuan utama dimekarkannya Kevikepan Yogyakarta menjadi Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur adalah optimalisasi pelayanan pastoral dan keterlibatan banyak umat dalam reksa pastoral.

Pusat kevikepan yang baru yaitu Kevikepan Yogyakarta Barat yang berpusat di Paroki Santa Maria Bunda Penasehat Baik Wates. Sedangkan Kevikepan Yogyakarta Timur di Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung.

Bapa Uskup Mgr Robertus Rubiyatmoko mengatakan, latar belakang dari pemekaran didasari oleh kompleksitas yang sangat kuat dari kevikepan Yogyakarta.

Dari sisi geografis kevikepan Yogyakarta meliputi 4 kabupaten (Sleman, Kulon Progo, Bantul, Wonosari) dan 1 kotamadya (Yogyakarta).

Selain itu memiliki umat sejumlah 142.597 jiwa, mencakup 37 paroki termasuk paroki administratif.

Mgr Rubiyatmoko berharap, dengan pemekaran ini ada optimalisasi pelayanan kepada umat beriman, semakin banyak orang-orang yang bisa dilibatkan dalam reksa pastoral kevikepan.

Merefleksikan tema perayaan, “Menjadi Gereja yang Transformatif”, Mgr Rubiyatmoko mengatakan bahwa Gereja akan semakin berkembang jika setiap orang terlibat didalamnya. Kehadiran umat menjadi kata kunci dalam pelayanan menuju Gereja yang transformatif. “Maka Gereja membutuhkan partisipasi umat agar dinamika pelayanan terus berkembang, dengan begitu terciptalah sebuah pelayanan yang transformatif”.

Bupati Kulon progo Bapak H. Sutejo Wiharso dalam sambutannya menyampaikan, dengan pemekaran ini, geliat umat dalam hidup menggereja terus berkembang. Beliau menyampaikan pemerintah daerah pada prinsipnya sangat mendukung kegiatan peribadatan, sebab dengan beribadah seseorang dapat semakin memusatkan hidup pada nilai-nilai kehidupan, salah satunya kehidupan yang damai.

Pemekaran
Kevikepan Yogyakarta Barat ada 18 paroki, meliputi Paroki Wates, Nanggulan, Boro, Promasan, Adm Bonoharjo, Adm Pelem Dukuh, Sedayu, Klepu, Ganjuran, Bantul (Klodran), Somohitan, Mlati, Medari, Warak, Brayut, Gamping, Banteng, dan Pakem, dengan Rama AR Yudono Suwondo Pr sebagai Vikaris Episkopal.

Kevikepan Yogyakarta Timur ada 19 paroki, Paroki Nandan, Paroki Minomartani, Paroki Babadan, Paroki Kalasan, Paroki Macanan, Paroki Pangkalan, Paroki Pringgolayan, Paroki Baciro, Paroki Pringwulung, Paroki Babarsari, Paroki Kotabaru, Paroki Jetis, Paroki Kidul Loji, Paroki Kumetiran, Paroki Pugeran, Paroki Bintaran, Paroki Wonosari, Paroki Kelor dan Paroki Bandung, dengan Rama Adrianus Maradiyo Pr sebagai Vikaris Episkopal, dengan pusat pastoral di Domus Pacis Puren, Paroki Pringwulung.

sumber :

https://www.salamdamai.org/
https://www.hidupkatolik.com/

Leave a Reply