Komisi Keluarga Kevikepan DIY Menyelenggarakan Kursus Perkawinan Secara Daring

 

Menikah dan hidup berkeluarga merupakan buah panggilan hidup yang sangat luhur dan sekali untuk seumur hidup.  Karena itu, sudah semestinya kalau pernikahan ini dipersiapakan dengan sebaik mungkin dan sesempurna mungkin, baik secara batiniah maupun lahiriah.

Salah satu persiapan yang harus dijalani oleh para pasangan calon keluarga adalah kursus perkawinan.  Kursus perkawinan sebenarnya tidak lain adalah kursus persiapan hidup berkeluarga.  Intinya mempersiapkan pasangan agar secara intelektual memahami hakikat hidup berkeluarga dengan segala macam konsekuensinya.  Kemudian secara moral siap memasuki lika-liku hidup berkeluarga.  Dan secara rohani disiapkan untuk menyadari campur tangan Allah dalam hidup berkeluarga yang mau dibangun itu.

Ketua Komisi Keluarga Kevikepan DI Yogyakarta romo Andrianus Sulistyono, MSF menjelaskan, dalam perjalanan waktu, disadari bahwa maksud dari kursus persiapan perkawinan tidak terlalu mewakili persiapan membentuk sebuah rumah tangga. Untuk itu sistemnya di buat seperti seminar dan nama persiapan pernikahan dirubah menjadi Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga (KPHB).

Dalam KPHB, para pasangan calon keluarga diberikan pengajaran, diskusi dan pendampingan, maka kursus ini berubah menjadi katekese dengan penekanan pada unsur pewartaan iman.

“Paroki-paroki yang ada di Kevikepan DI Yogyakarta, secara reguler telah mengadakan Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga dengan pengajar-pengajar yang sudah berpuluh tahun mengajar kursus perkawinan, bersama OMI dibawah kepemimpinan romo Aloysius Purwahadiwardaya MSF yang kemudian pada tahun terakhir diserahkan kepada saya, dan untuk pengajar kursus perlu adanya regenerasi” terang romo Andri.

Saat situasi pandemi yang datang dengan tiba-tiba menyebabkan kursus perkawinan terhenti, karena tidak mungkin mengadakan wawan hati tatap muka.

Maka katekese persiapan hidup berkeluarga ini oleh Komisi Keluarga Kevikepan DI Yogyakarta di ramu dalam bentuk online.

Tentu saja materi yang diberikan tidak sekomplit saat diadakan secara reguler, dan dengan online ini diharapkan para calon pasangan dapat berkomunikasi dengan pengajar.

Pasutri Thomas Rasul Mujiono dan Theresia Setyaningrum Trimartani memberikan pengajaran kepada pra calon pasangan keluarga

KPHB secara daring gelombang pertama diadakan tanggal 26,27, 28 Mei 2020.  Pesertanya sebanyak 15 dan berjalan bagus, hanya ada kendala yaitu jaringan internet yang kurang lancar.

Setelah dievaluasi hasilnya bagus dan banyak calon manten dari paroki-paroki merasa terbantu.

Gerakan kursus perkawainan secara daring diikuti oleh beberapa paroki di kota Jogjakarta, diantaranya paroki Kumetiran, paroki Minomartani dan paroki Pugeran.

Keberhasilan gelombang pertama dan melihat kebutuhan dari paroki-paroki, maka Komkel Kevikepan DIY  membuka gelombang ke-2 yang diselenggarakan tanggal 20, 21 Juni 2020.

Kursus gelombang kedua ini diikuti 40 pasang plus 1 pasang yang mendesak mengikuti kursus karena satu pasangan ini harus menerima berkat akad nikah secara protokoler covid.

Rekan-rekan Multimedia Focus paroki Minomartani dengan peralatannya saat Kursus Perkawinan secara daring berlangsung 

Tentu saja keberadaan dan ketersediaan properti untuk daring sangat menunjang, dan kebetulan oleh romo Andrianus Sulistyono, MSF kursus daring diselenggarakan di Minomartani.

“Paroki St Petrus Paulus Minomartani sudah biasa menyelenggarakan misa online streaming sejak bulan Maret sampai saat ini dan responnya positif, maka properti dari Tuhan itu kita gunakan juga untuk mendukung KPHB,” kata romo Andri.

Kursus perkawinan secara daring juga diselenggarakan di Kevikepan Surakarta diikuti 58 pasangan, di Kevikepan Semarang juga sudah melakukan kursus perkawinan di tingkat paroki.  Ini semua sebagai bentuk pelayanan dari Komisi Keluarga seperti yang diharapkan oleh Vikep DIY romo Andrianus Maradiyo, Pr dan bapak Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Kursus perkawinan secara daring menjadi jawaban bagi pasangan yang kesulitan untuk mengikuti kursus dikarenakan salah satu berdomisili diluar DIY atau bekerja diluar kota. Upaya ini dilakukan agar calon pasangan tidak merasa kesulitan untuk menikah.

Galeri foto klik disini

Agustinus Suseno

Leave a Reply