Hidup Jadi Cerita Manis : Singkong dan Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Covid-19

HALAMAN Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta. Malam sudah larut. Jam menunjukkan pukul 23.30. Ada beberapa orang, tidak lebih dari 10 orang berada di halaman itu.

Di luar kompleks gereja, di Jalan Panembahan Senopati, di depan gereja, tak tampak kendaraan lalu lalang. Sepi. Padahal biasanya, sebelum covid-19 menjajah Jogya, kawasan ini, riuh oleh para wisatawan.

Sumbangan singkong itu datang
Jelang pukul 24.00 WIB, sebuah truk memasuki pintu gerbang gereja. Truk langsung ambil posisi mundur ke arah tempat parkir sepeda motor di sisi barat. Begitu truk berhenti, empat lelaki sigap membongkar muatan.

Bukan beras atau bahan pangan lain isi truk itu. Lah, ternyata truk itu menghantar ribuan batang pohon singkong.
Ada sekitar 500 bongkok; @25 batang pohon singkong. Yang semula melihat saja, akhirnya nimbrung menurunkan dan mengatur batang-batang singkong itu.

Semua bergerak tanpa henti. Dalam waktu sekitar setengah jam, selesai. Sekitar 500 bongkok batang pohon singkong itu tertata rapi.

Semua ambil napas, meliukkan badan, ngolet. Lega bantuan bibit singkong mentega yang dijanjikan seorang donatur dari Jakarta dan Semarang itu benar-benar sudah teronggok di depan mata.

Puji Tuhan, ini benih singkong yang akan menghijaukan kebun-kebun kosong, dan memadati lahan-lahan yang ada di pekarangan-pekarangan milik umat dan masyarakat DIY.

Upaya kreatif
Vikep DIY Romo Andrianus Maradiyo yang masih keringatan, mengatakan, penanaman massal bibit singkong ini akan memperkuat ketahanan pangan masyarakat DIY, menghadapi krisis pangan jika wabah covid-19 ini berlanjut lama.

Hari berikutnya, Selasa 12 Mei, paroki-paroki yang sudah memesan di wag grup, atau yang langsung ke Romo Vikep, mulai mengambil bibit singkong ini.

Yang juara pertama mengambil adalah Paroki Wonosari. Mas Endro dkk datang dengan mengendarai truk. Wonosari dapat jatah 17 bongkok, maka sekalian mengangkut jatah Paroki Bandung dan Paroki Kelor, kedunya di Kabupaten Gunung Kidul, DIY.

Maka cucuklah truk itu kembali ke “Yogya Lantai 2” —sebutan lucu untuk Wonosari yang berlokasi “di atas” Kota Yogyakarta.

Berikutnya, satu per satu paroki-paroki mengambil dengan membawa mobil pikap. Semua terdokumentasi. Yang menarik, Romo Vikep DIY — Romo Andrianus Maradiyo Pr— berkenan memberi berkat dengan memercikkan air yang sudah diberkati ke batang-batang pohon singkong ini.

Berkat Tuhan dan restu dari Para Kudus, semoga memberi hidup tanaman ini, dan benar-benar menghasilkan umbi yang besar.

Singkong itu gampang Mengapa singkong?
Kebetulan ada tawaran. Romo Dio merespon. Jadilah, bantuan 12.500-an batang singkong itu benar-benar datang.
Kedua, tanaman singkong bisa ditanam dengan mudah. Jika masih ada hujan turun, optimis batang-batang itu akan bertunas dan berakar.

Kurun waktu 6-8 bulan atau 9-12 bulan, daun-daun bagian bawah akan menguning lalu rontok, tanda kita bisa memanennya.

Zaman dulu, anak-anak yang ga sabar, sering ‘ngontholi‘dengan cara ndukir-ndukir (mengangsir tanah di bagian pinggir) dan terus ambil satu singkong. Dan, lalu singkong-singkong yang belum waktnya panen itu lalu dibakar.

Itu dulu zaman cilikane Pak Hari. Nek sekarang ini sudah tidak ada lagi anak-anak yang “bermental jorok” kayak gitu.

Singkong mringin-miringin nan legit di piring saja sudah tidak mau mereka sentuh, kecuali oleh Mbah Kakung atau Mbah Utik.

Anak-anak sekarang lebih suka McD.

Hitung-hitungan kasar
Nah mari kita hitung.

  • Ada 12.500.batang, @bisa jadi 5 potong. Jadi semua ada 62.500 potong benih singkong.
  • Satu batang ini akan menghasilkan rata-rata saja 2 kg singkong.
  • Maka akhir 2020 ini atau awal 2021, kita akan panen 125 ribu kg singkong atau 125 ton.
  • Harga 1 kg katakanlah Rp5.000,00. Jadi 125.000 x Rp5.000= Rp625.000.000,00.
  • Kemungkinan gagal 25% atau Rp161 juta.
  • Total hasil kita Rp 625 juta — Rp161 juta = Rp464 juta.

Wow… batang-batang singkong yang sekaarng masih teronggok itu, kalau segera ditanam, dipelihara sehingga tumbuh subur, nanti akhir tahun ini atau awal tahun depan, minimal akan bernilai lebih dari Rp 450 juta.

Ketahanan pangan
Inilah strategi Kevikepan DIY untuk ikut menciptakan kesejahteraan warga masyarakat. Ini juga merupakan upaya kita bersama dengan menciptakan ketahanan pangan, jika wabah korona ini terus berlanjut ke krisis pangan.
Ada bahan pangan yang dihasilkan dari kebun. Kita bisa berbagi ke tetangga dan yang membutuhkan.

Antisipasi bencana kelaparan.
Momentum ini kebetulan bersamaan dengan ulang tahun ke-80 lahirnya Keuskupan Agung Semarang.

Romo Vikep DPY mengatakan, penanaman bibit singkong ini sekaligus bagian dari peringatan 80 tahun KAS.

Seperti tema Hari Komunikasi Sosial tahun 2020 ini: “Hidup Menjadi Cerita“.

Sejarah iman
Sejarah perkembangan iman ke-Katolik-an di DPY adalah perjalanan iman yang diceritakan. Dari waktu ke waktu menjadi bertumbuh dan berkembang.

Demikian juga perkembangan iman ke-Katolik-an di KAS. Adalah hidup yang layak diceritakan.

Selanjutnya, Romo Vikep berharap, masing masing paroki melakukan penulisan setiap peristiwa iman, sekecil apapun petistiwa itu, adalah wujud dari “hidup yang harus diceritakan”.

Penanaman bibit singkong ini adalah peristiwa iman. Maka boleh diceritakan. Cerita tentang kehidupan akan selalu menarik, karena di dalam kehidupan itu ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik sebagai pendewasaan iman kita pada Tuhan.

Penulis : Anton Sumarjana, wartawan di Harian Bernas; sebelumnya bekerja di Majalah Hidup

Sumber : http://www.sesawi.net/hidup-jadi-cerita-manis-singkong-dan-ketahanan-pangan-di-masa-pandemi-covid-19/

 

Leave a Reply