Bulan Katekese Liturgi 2020 Hari Ke-24

Berliturgi dengan Piranti Digital
Suatu kali, seorang imam muda harus memimpin Misa di sebuah stasi yang jauh dari pastorannya. Sekitar 40 kilometer jauhnya. Saat akan mulai, tiba-tiba ia sadar kalau tidak membawa buku Lectionarium atau Kitab Suci. Ia meminta tolong kepada umat untuk mencarikan Kitab Suci. Upaya ini tidak berhasil. Imam yang masih muda dan kreatif itu akhirnya ingat bahwa ada aplikasi Kitab Suci dalam HP-nya. Akhirnya, ia pun menggunakan aplilcasi ini. Lalu setelah membaca bacaan Injil dari aplikasi tersebut, imam itu mengangkat HP-nya dan menyerukan aklamasi, “Demikianlah Injil Tuhan”. Umat pun menjawab dengan penuh semangat, “Terpujilah Kristus”.

Mengangkat HP seperti laksana Injil atau Evangeliarium seperti yang dilakukan imam muda tersebut tentulah kurang tepat secara liturgis. Namun dari kisah di atas, membaca Kitab Suci dari aplikasi di HP dapat dimengerti sebagai situasi darurat, bukan keadaan normal. Persoalan liturgis tentu lebih luas dalam hal ini: bolehkah berliturgi dengan piranti digital? Konstitusi Liturgi menyatakan bahwa sarana-sarana alat komunikasi boleh digunakan dalam perayaan liturgi tetapi harus digunakan secara bijak dan penuh hormat (SC 20). Sebenarnya secara umum, kita sudah sangat biasa dengan penggunaan sound system, dokumentasi, layar monitor, siaran radio dan televisi pada perayaan liturgi, begitu pula dengan penggunaan LCD proyektor. Hanya saja LCD proyektor ini sebaiknya hanya digunakan pada saat atau bagian tertentu dari Perayaan Ekaristi, seperti saat penayangan syair nyanyian atau refrein Mazmur Tanggapan dan sebagainya, dan bukan sepanjang Misa. Bila ada tim dokumentasi yang merekam Misa tersebut, sebaiknya gambar yang muncul di monitor itu dibatasi pada panti imam, terutama pada imam atau orang yang sedang bertugas liturgi, dan bukan mencari wajah umat yang cantik atau ngantuk, sehingga malah mengganggu kekhusyukan perayaan.

Di sinilah peran tim pelayanan liturgi di bawah pendampingan Rama Paroki. Sejauh piranti digital digunakan secara bijak dan penuh hormat, niscaya umat akan semakin dibawa pada penghayatan yang semakin dalam.

Leave a Reply