Bulan Katekese Liturgi 2020 Hari Ke-21

Pengantar Misa itu Singkat
Pada suatu Misa Kudus hari Minggu, ada seorang imam yang memberi pengantar Misa selama 10 menit. Umat gelisah, apalagi mereka sudah berdiri sejak Nyanyian Pembuka hingga Salam. Tiba-tiba ada seorang bapak yang sudah lanjut usia jatuh terduduk karena kecapaian berdiri. Mereka yang duduk di sekitarnya menjadi sibuk menolong bapak itu. Sementara, imamnya seperti tidak tahu bahwa seluruh umat sangat gelisah dibuatnya.

Salah satu praktik di banyak tempat oleh banyak pastor atau imam adalah memberikan pengantar Misa yang terlalu panjang, dan bahkan sudah menjadi homili pertama. Padahal norma liturgi Gereja jelas sekali menyebutkan bahwa sesudah tanda salib dan salam, imam “dapat memberikan pengantar sangat singkat kepada umat tentang Misa yang akan dirayalcan” (PUMR 50). Dalam pengantar awal ini cukup disampaikan tema atau misteri iman yang dirayakan pada Misa tersebut Selain itu, juga dapat dibacakan intensi atau ujub misa. Tentu apabila ada begitu banyak intensi seperti Misa tanggal 2 November, intensi Misa dapat dibacakan oleh petugas sebelum Misa dimulai. Selanjutnya, pengantar Misa berisi ajakan untuk masuk pada keheningan penelitian batin, yang dilanjutkan dengan pernyataan tobat .

Pengantar Misa perlu disampaikan secara singkat, padat, dan sesuai tema (tidak bertele-tele), sehingga umat memahami pesan Misa yang akan dirayakan. Prinsip ini juga perlu diperhatikan oleh para prodiakon yang memimpin ibadat lingkungan. Pada saat pengantar ini, tidak perlu dibahas bacaan yang akan diadakan. Tempat renungan atas bacaan Misa jelas ada di bagian homili atau khotbah. Dari pengamatan, pengantar yang panjang oleh seorang imam sering disebabkan karena dia menyinggung bacaan yang akan dibacakan. Kalau begitu, imam itu harus menguraikan konteksnya dan seterusnya, sehingga akibatnya, pengantar menjadi panjang.

Leave a Reply