Bulan Katekese Liturgi 2020 Hari Ke-19

Ekaristi sebagai Perayaan Syukur
Sikap suka mengeluh merupakan salah satu tanda orang yang sulit bersyukur. Tidak bisa dipungkiri, ada banyak hal dalam kehidupan ini yang mungkin membuat kita mengeluh, seperti beban pekerjaan yang menumpuk, sakit yang tidak kunjung sembuh, pendapatan yang pas-pasan, cuaca yang tidak bersahabat, dan lain sebagainya. Namun, Ekaristi mau mendorong dan menyadarkan kita bahwa semestinya kita harus selalu bersyukur. Sebab meskipun ada yang dikeluhkan, tetapi sebenarnya ada begitu banyak hal lain yang pantas kita syukuri. Misalnya: syukur atas kasih-Nya yang menyelamatkan, syukur atas anugerah hidup selama ini, syukur atas kesehatan yang baik, rezeki yang lancar, dan masih banyak lagi yang pantas untuk kita syukuri.

Kata “Ekaristi” berasal dari bahasa Yunani ‘Eucharistia‘ yang berarti pujian syukur. Ekaristi merupakan pujian yang ditujukan kepada Allah dan syukur atas karya keselamatan Allah bagi kita, melalui Yesus Kristus Putra-Nya dan dalam Roh Kudus. Dalam iman, kita mengalami bahwa kita ini telah ditebus dan diselamatkan berkat pengurbanan Kristus, Tuhan kita. Berkat wafat dan kebangkitan-Nya, kita didamaikan kembali dengan Allah. Jadi sifat syukur dalam Ekaristi ialah karena Allah yang telah lebih dahulu bertindak dan mengasihi kita. Dalam Ekaristi, syukur atas kasih dan kebaikan Allah yang kita alami dalam hidup sehari-hari disatukan dengan syukur atas karya keselamatan Allah dalam Putra-Nya Yesus Kristus. Itulah mengapa perayaan kita disebut sebagai Ekaristi yang artinya pujian syukur.

Kalau Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak hidup umat kristiani (LG ), maka semestinya bersyukur juga menjadi warna dasar dan dominan dari hidup kita. Orang kristiani pasti mudah bersyukur dan bersukacita. Seperti kata Paus Fransiskus, orang kristiani itu tidak boleh sedih dan putus asa. Hidup orang kristiani pasti penuh sukacita dan syukur karena tahu bahwa ia dikasihi Tuhan dan bahkan Tuhan telah mengurbankan hidup baginya.

Leave a Reply