Bulan Katekese Liturgi 2020 Hari Ke-18

Apakah Misa Kudus Sebuah Pertunjukan?

Setelah kelompok kor menyanyilcan lagu berjudul “Remember Me” untuk mengiringi penerimaan Komuni Kudus, semua umat bertepuk tangan meriah sebagai ung-kapan kekaguman terhadap kelompok kor yang telah menyanyi dengan suara yang sangat merdu. Hal yang sama juga dilakukan oleh umat setelah imam dalam kesempatan homili menyanyikan sebuah lagu “Bojo Galak“. Bagaimana ini? Bolehkah bertepuk tangan dalam Perayaan Ekaristi? Apa yang dicari dalam Perayaan Ekaristi? Apa yang dipahami tentang Ekaristi? Ada situasi yang lebih memprihatinkan di balik sebuah pengakuan jujur dan polos dari beberapa umat: “Rama, saya ingin ikut Misa tetapi tidak jadi karena harus pakai tiket dan tiketnya mahal.

Perayaan Ekaristi bukanlah pertunjukan atau tontonan atau permainan panggung. Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman Gereja, yakni perayaan untuk mensyukuri karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Dalam Perayaan Ekaristi, umat beriman ingin mengalami dan merasakan kehadiran Tuhan dan tinggal dalam kasih-Nya. Para petugas yaitu imam, prodiakon, lektor, pemazmur, misdinar, kor, dan kolektan dalam melaksanakan tugas dan perannya masing-masing mesti membantu umat agar memperoleh apa yang dirindukannya, masuk dan menghayati misteri yang dirayakannya.

Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman seluruh umat, bahkan seluruh Gereja semesta yang bersatu dalam iman dalam kesatuan dengan Tubuh Mistik Yesus Kristus. Misa Kudus bukanlah panggung pertunjukan, panggung cari nama, ketenaran, dan kekaguman. Perayaan Ekaristi bukanlah tempat untuk ‘stand up commedy, juga bukan acara untuk ‘one man show’. Perayaan Ekaristi bukanlah waktu untuk menikmati ‘guyon maton’, melihat ‘pertunjukan‘ paduan suara. Sebaliknya, Ekaristi mesti dirayakan dengan penuh hormat, khidmat, agung, dan berdaya makna sesuai martabat misteri iman yang dirayakan!

Leave a Reply