Bulan Katekese Liturgi 2020 Hari Ke-12

Sejarah Kongres Ekaristi Keuskupan di KAS

“Jasmerah” kata Bapak Presiden Soekarno dalam pidatonya yang terakhir, pada saat peringatan hari kemerdekaan RI, 17 Agustus tahun 1966. Apa itu Jasmerah? “Jangan sekali kali meninggalkan sejarah”. Karena begitu pentingnya sejarah, maka sampai sekarang, di lembaga pendidikan tetap ada pelajaran Sejarah.

Berkumpulnya Anak-anak dan Remaja, Orang Muda Katolik, Bapak ibu, para anggota Jaringan Kelompok Doa (Jarkod), dan anggota Lembaga Hidup Bakti menjadi bagian dari sejarah berlangsungnya Kongres Ekaristi Keuskupan (KEK) di Keuskupan Agung Semarang. Mereka adalah para peserta yang berasal dari utusan masing-masing paroki dan kevikepan, serta anggota kelompok-kelompok doa yang ada di KAS. Begitu pun para suster, bruder, dan frater melengkapi Umat Allah di KAS dalam hiruk-pikuk KEK.

Keuskupan Agung Semarang mengadakan KEK I pada tanggal 27-29 Juni 2008 dengan tema: “Ekaristi: Berbagi 5 Roti dan 2 Ikan” dengan pusat kegiatan di Gua Maria Kerep Ambarawa. Empat tahun kemudian, yaitu 22-24 Juni 2012, berlangsunglah KEK II di KAS dengan tempat di Kevikepan Yogyakarta. Ada 4 paroki sebagai tempat kegiatan yaitu Bantul, Pugeran, Klepu, dan akhirnya ditutup di Paroki Ganjuran dengan mengambil tempat di sekitar Ziarah Hati Kudus Yesus Ganjuran. Temanya “Ekaristi: Tinggal dalam Kristus dan Berbuah. Selanjutnya, KEK III dilaksanakan di 4 kevikepan, dengan tema besar: “Ekaristi: Sakramen Cinta Kasih: Kamu harus memberi mereka makan”. Karena diadakan di 4 kevikepan secara berbeda, maka waktunya menjadi sangat panjang untuk tingkat keuskupan yaitu mulai 29 Mei 2016 sebagai pembuka di Kevilcepan Kedu, kemudian ditutup pada 19 Juni 2019 di Gua Maria Sriningsih, Paroki Dalem, Kevikepan Surakarta.

Dengan bantuan Allah dalam Roh Kudus, semoga sejarah Kongres Ekaristi Keuskupan di KAS masih akan bisa terus berlanjut. Pada bulan Juni 2020 ini pun, sudah direncanakan terselenggaranya KEK IV KAS. Tujuannya satu: agar umat semakin mencintai Ekaristi dan devosinya, sebagai sumber dan puncak hidupnya.

Leave a Reply