Bahan Pendalaman Kitab Suci OMK 2019

Pengantar

Kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya di planet kita sekarang sangat terancam, bukan oleh krisis vulkanis dari perut bumi atau oleh benturan asteroid dari luar angkasa yang ratusan atau puluhan juta tahun lalu memusnahkan sebagian besar makhluk hidup di bumi, tetapi oleh suatu perubahan iklim dan pemanasan bumi yang berlangsung sangat cepat se-bagai akibat kegiatan manusia yang mencemarkan sarangnya sendiri.

Salah satu akibat pemanasan bumi yang paling berbahaya adalah naiknya permukaan laut yang dengan topan-topan dahsyat dapat membanjiri dan menenggelamkan kota dan desa yang dihuni oleh miliaran penduduk. Bencana ini juga akan membenamkan juga habitat satwa dan fauna yang tak terhitung banyaknya. Ancaman dahsyat air yang berubah dari sumber kehidupan menjadi pembawa kematian, meng-undang kita pada bulan Kitab Suci 2019 untuk membaca dan mendalami cerita Nuh, cerita air bah. Cerita yang dikenal luas itu bukan hanya tentang Allah dan nasib manusia, tetapi ten-tang pemusnahan dan penyelamatan seluruh alam ciptaan.

Cerita Nuh ini sangat menarik sebagai teks penuntun yang dapat membantu untuk menggumuli krisis ekologi. Cerita ini mampu membangkitkan kesadaran ekologis karena serentak memberi peringatan keras akan kerusakan tetapi juga mem-beri harapan baru. Kita akan membaca cerita panjang itu da-lam empat tahap.

Tahap pertama memperhatikan kejahatan yang mengakibat-kan pemusnahan.

Tahap kedua berfokus pada Allah dan Nuh yang bersama-sama menyelamatkan segala jenis makhluk hidup.

Tahap ketiga memantau pemulihan bumi untuk manusia dan segala makhluk; diakhiri janji Allah tak akan membinasakan bumi lagi.

Tahap keempat, janji Allah dikokohkan menjadi Perjanjian Allah dengan manusia dan semua makhluk, disertai beberapa peraturan untuk melindungi hidup di bumi.

Sebagai catatan akhir, sehubungan dengan Gagasan Pendu-kung BKSN 2019 yang cukup lengkap dan memakan banyak halaman, maka tidak kami satukan dengan buku bahan per-temuan umat. Sebagai pengganti kami mempersilakan umat yang menghendaki bisa mengunduh sendiri dengan menggu-nakan QR Code Reader melalui barcode yang kami sediakan.

Pertemuan 1

Bumi Musnah, Jahatkah Allah?(Kej.6:1-13)

Tujuan :

  1. Peserta menyadari pandangan orang beriman terkait pe-nyebab dasar krisis ekologis.
  2. Peserta melakukan tindakan nyata sebagai solusi me-ngatasi krisis ekologis.

Waktu : 90 Menit

Gagasan Dasar :

Kisah tentang pemusnahan bumi (Kej. 6-7) telah menarik per-hatian para pemerhati ekologi. Punahnya kehidupan di bumi menjadi sesuatu yang menakutkan pada zaman sekarang. Se-jak perang dunia kedua, ancaman nuklir dikhawatirkan akan menghancurkan bumi. Kemudian berkembang teknologi baru, seperti modifikasi genetik, yang ditakuti bisa memicu rantai bencana di luar kendali manusia. Kini eksploitasi bumi yang berlebihan, karena kerakusan pengusaha dan konsum-erisme masyarakat, telah merusakkan tanah, air, dan udara, serta memusnahkan keanekaragaman hayati. Kehancuran bumi itu diperparah oleh berbagai perang yang dipicu oleh perebutan sumber daya alam.

Penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan terlalu banyak bahan berbahaya (karbon dioksida, metana, dll.). Sementara itu hutan yang berfungsi untuk menyerap karbon dioksida justru ditebang dan dibakar. Hal ini sangat men-cemaskan karena membuat bumi menjadi semakin panas.

Pemanasan bumi telah membuat es di kutub mencair sehingga permukaan air laut naik. Pemanasan bumi itu juga telah meng-akibatkan perubahan iklim yang membawa berbagai bencana alam yang makin ekstrem. Meskipun air laut yang meningkat tidak akan menutupi seluruh bumi seperti dalam cerita Nuh, banyak pulau, delta, dan wilayah pesisir yang sangat luas akan tenggelam. Para pengungsi karena perubahan iklim sudah ada dan akan bertambah sangat banyak.

Berbeda dengan perubahan iklim yang pernah terjadi se-panjang sejarah bumi ini, baru kali ini penyebabnya adalah manusia. Kegiatan manusia tidak sesuai lagi dengan irama bumi dan daya pemulihan alam. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang berdikari. Tidak ada makhluk yang tidak terhubung dengan lingkungannya dan tidak bergantung padanya. Manusia pun demikian! Bila satu dipelihara, semua terpelihara, tetapi bila satu diabaikan, semua menderita. Karena manusia melakukan kekerasan terhadap alam, alam pun menjadi bencana bagi manusia. Alam dan manusia bersama-sama ditimpa kerusakan dan pemusnahan. Dalam cerita air bah, orang beriman mengungkapkan per-menungan imannya, bahwa pemusnahan segala yang hidup itu berkaitan dengan kesalahan dan kejahatan manusia. Per-menungan orang beriman ini, mengajak kita untuk mawas diri dan menyadari kesalahan dan kejahatan kitalah yang menjadi penyebab krisis lingkungan hidup sekarang ini.

Pembuka

Lagu Pembuka
MB 371 “Mohon Ampun” (ayat 1) atau lagu lain yang sesuai.

Tanda Salib dan Salam

P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus U Amin
P Tuhan beserta kita
U Sekarang dan selama lamanya

Pengantar
Pemandu menginfokan hal berikut:

1. Sapa, salam dan ucapan terimakasih kehadiran rekan muda dalam pertemuan BKSN
2. Tema BKSN 2019 “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Lingkungan Hidup” Tema ini didalami dalam em-pat pertemuan :
• Pertama : Bumi Musnah, Jahatkah Allah?
• Kedua : Bumi Lestari, Panggilan Illahi!
• Ketiga : Barui Bumi, Karya Illahi!
• Keempat : Saudara Bumi, Janji Illahi!
3. Tiga langkah proses pendampingan yang akan dijalani:
• Langkah pertama : Pendalaman Pengalaman Hidup. Langkah ini untuk memotret pandangan, sikap atau tindakan peserta terkait pokok bahasan.
• Langkah kedua : Pendalaman Kitab Suci. Langkah ini untuk menemukan pengalaman orang beriman (pandangan, sikap atau tindakan) terkait pokok ba-hasan.
• Langkah ketiga : Aksi. Langkah ini mengkonfrontir point-point penting yang diketemukan pada lang-kah pertama dengan kedua. Point-point penting pengalaman orang beriman (langkah kedua) digu-nakan sebagai pijakan untuk menyoroti (menyinari) point-point hasil pendalaman pengalaman hidup (langkah pertama). Konfrontasi ini menghasilkan tiga hal sebagai buah pendampingan :
• Pertama : Memperoleh dukungan, peneguhan atas pandangan, sikap atau tindakan yang se-suai dengan pandangan, sikap atau tindakan orang beriman.
• Kedua : Memperoleh teguran, kritik, koreksi atas pandangan, sikap atau tindakan yang ber-tentangan dengan pandangan, sikap atau tinda-kan orang beriman.
• Ketiga : Memperoleh masukan, inspirasi un-tuk menggunakan pandangan, sikap atau tin-dakan orang beriman yang selama ini belum dimilikinya.
4. Tujuan yang mau dicapai pada pembahasan subtema ”Bumi Musnah, Jahatkah Allah?” (Kej. 6 :1-13)
5. Ajakan untuk terlibat secara aktif dalam mengikuti pen-dampingan.

Doa Pembuka

P Marilah berdoa.

Allah Bapa yang penuh kasih, pantas dan layak kami senantiasa bersyukur kepada-Mu. Kami bersyukur Kau cipta kami sebagai manusia. Kami bersyukur Kau se-lenggarakan hidup kami bersama aneka benda, tanaman dan binatang. Kami bersyukur saat ini Kau perkenankan bersekutu dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Kami bersyukur berkesempatan untuk mendalami krisis ekol-ogis, krisis lingkungan hidup seturut terang Sabda-Mu. Kami percaya Engkau berkati kami dengan kuasa Roh Kudus sehingga kami dapat mengikuti pembahasan tema BKSN sepenuh hati. Terlebih kami mampu mewujudkan kehendak-Mu menjadi solusi krisis ekologis, demi Kris-tus, Tuhan kami.

U Amin.

Pendalaman Pengalaman Hidup

Seorang anak muda India bernama Rohan Chakravarty, menggunakan cara yang sangat universal dan mudah dicerna oleh banyak orang, serta sangat menghibur, yaitu: gambar kartun! Karya pemuda asal kota Nagpur, India ini memang seringkali membuat kita tersenyum miris, melihat berbagai fakta kerusakan lingkungan yang terjadi di Bumi kita disampaikan dengan cara yang satir. (https://www.mongabay.co.id/2013/07/30/kartun-lingkungan-upaya-meraih-perhatian-publik-lewat-gambar-lucu/)

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Cermati gambar kartun “greenhumour.blogspot”.
  2. Rembugan, “glenak-glenik” dengan kanan kirinya, men-jawab pertanyaan di bawah :
  3. Sampaikan hasil “glenak-glenik”nya (beberapa saja)

Pertanyaan untuk “glenak-glenik”:

  1. Apa dampak pembangunan “PALM OIL Co” (baca:industri) itu?
  2. Motivasi apakah yang perlu dikritisi dalam pem-bangunan “PALM OIL Co” (baca:industri)?

Penjelasan
Pemandu menyimpulkan hasil “glenak-glenik” sebagai berikut :

  1. Kehadiran industri di suatu wilayah berdampak gan-da:positip (bersifat membangun, menyerap tenaga ker-ja setempat, memajukan kesejahteraan ekonomi se-tempat, dll) dan negatip (bersifat merusak, hilangnya aneka tanaman dan hewan hayati, terganggunya rantai kehidupan, polusi udara, air dan suara, kenaikan su-hu bumi, perubahan iklim, dll). Gambar kartun me-nunjukkan lebih banyaknya dampak negatip.
  2. Motivasi utama kehadiran industri, diakui atau tidak pastilah mencari keuntungan sebesar-besarnya. Pemilik industri dengan kekuatan modalnya lebih banyak memetik keuntungan dari pada rakyat setempat. Se-mangat mengeksploitasi sumber daya alam dapat beriringan dengan semangat tamak, rakus, berkuasa dan menindas, yang bisa dibalut dalam cita-cita luhur memajukan kesejahteraan umum. Diakui atau tidak, semangat “homo homini lopus” dapat menjadi akar da-sar krisis lingkungan. Krisis kemanusiaan melahirkan krisis ekologis. Motivasi kemanusiaan mestinya yang utama

Pendalaman Kitab Suci

Pembacaan Kitab Suci (Kej. 6:1-13)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Baca teks (Kej. 6:1-13) secara pribadi dalam hati
  2. Baca teks (Kej. 6:1-13) secara bergantian ayat perayat

1Ketika manusia mulai bertambah banyak di muka bumi, dan anak-anak perempuan dilahirkan bagi mereka, 2maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang mereka sukai. 3Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan tinggal di dalam manusia selamanya, karena manusia itu adalah daging. Umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.” 4Pada waktu itu dan juga kemudian, ada orang-orang raksasa di bumi, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka. Mereka itulah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

5TUHAN melihat betapa besarnya kejahatan manusia di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan se-mata-mata. 6Lalu Tuhan menyesal bahwa Ia telah menjadikan ma-nusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. 7Berfirmanlah TU-HAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. 8Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.

9Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak ber-cela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh berjalan bersama Allah. 10Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. 11Di hadapan Allah bumi sudah rusak dan penuh dengan kekerasan. 12Allah menilik bumi itu dan ternyata benar-benar ru-sak, sebab semua makhluk menjalani hidup yang rusak di bumi.
13Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka ber-sama-sama dengan bumi.

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  • Membentuk kelompok kecil (5-10 peserta)
  •  Mensharingkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut, dalam ke-lompok.
  1. Bagaimana orang beriman menggambarkan dampak utama krisis lingkungan ?
  2. Apa penyebab utama krisis lingkungan menurut orang beriman ?
  3. Bumi musnah, jahatkah Allah ?

Penjelasan
Pemandu menyimpulkan hasil sharing kelompok,sebagai berikut :

1. Dampak utama krisis lingkungan, digambarkan orang beriman dengan kisah air bah adalah kepunahan. Kepu-nahan ini diungkapkan dalam pernyataan:
A. “Roh-Ku tidak akan tinggal di dalam manusia se-lamanya…Umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.” (ayat 3)
B. “Aku akan menghapuskan…dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang me-lata dan burung-burung di udara..” (ayat 7)
C. “…untuk mengakhiri hidup segala makhluk… Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi (ayat 13)

2. Penyebab utama krisis lingkungan menurut orang beri-man adalah kejahatan manusia :
A. …anak-anak Allah…mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang mereka sukai (ayat 2)
B. …anak-anak Allah menghampiri anak-anak pe-rempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan…orang-orang yang gagah perkasa… orang-orang yang kenamaan (ayat 4)
C. …betapa besarnya kejahatan manusia…segala ke-cenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan (ayat 5)
D. …bumi sudah rusak dan penuh dengan kekerasan (ayat 11)
E. …ternyata benar-benar rusak, sebab semua makhluk menjalani hidup yang rusak di bumi. (ayat 12)

3. Cerita air bah menyadarkan betapa seriusnya krisis bumi sekarang ini. Punahnya kehidupan di bumi men-jadi ketakutan zaman now. Kegiatan manusia tak sesuai dengan irama bumi dan daya pemulihan alam. Manusia yang jahat telah mengisi segala-galanya dengan kejaha-tan dan kekerasannya. Pemusnahan segala yang hidup dikaitkan dengan faktor manusia, kesombongan dan ke-jahatannya yang memenuhi bumi dengan kekerasannya yang merusak. Maka semuanya dimusnahkan bersama dalam air bah. Kerusakan lingkungan sekaligus kemus-nahan mereka. Penghakiman Tuhan tak lain memberi daripada apa yang mereka sendiri lakukan, rusakkan Bumi musnah karena manusia jahat. Bumi musnah, bu-kanlah kejahatan Allah! Mawas diri, menyadari kesalahan dan kejahatan kita menjadi sebab krisis lingkungan hidup sekarang ini.

Aksi
Pemandu mengajak peserta :

  1. Menyebutkan point-point kesimpulan “glenak-glenik” (Pendalaman Pengalaman Hidup)
  2. Menyoroti point-point tersebut dengan kesimpulan “sharing” kelompok (Pendalaman Kitab Suci)
  3. Menemukan krisis ekologis di daerahya, mencermati sikap dan tindakan terhadapnya.
  4. Menjawab pertanyaan reflektif :

A. Adakah peneguhan atas sikap dan tindakanku ter-hadap krisis ekologis itu?
B. Adakah koreksi atas sikap dan tindakanku ter-hadap krisis ekologis itu?
C. Adakah inspirasi untuk bersikap dan bertindak mengatasi krisis ekologis itu?

Surat Buat Tuhan (EsBeTe)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Hening, berimajinasi bahwa Tuhan sejak awal hingga akhir proses pendampingan BKSN memperhatikan ke-terlibatan Anda
  2. Tulis “Surat Buat Tuhan” (EsBeTe) terkait krisis ekolo-gis di daerahnya.
  3. Bacakan EsBeTe-nya (beberapa saja)
  4. Doa “Bapa Kami.” (bersama)
  5. Lihat animasi (jika mungkin) https://www.youtu.be/db2LbL7NBDw

Penutup

Doa Penutup

P Marilah berdoa.

Allah, yang maha kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas Sabda-Mu yang telah Kaunyatakan kepada kami. Sabda yang meneguhkan perilaku peduli kami terhadap krisis ekologi. Sabda yang menegur perilaku kami yang abai terhadap krisis ekologi. Sabda yang mengilhami kami un-tuk menjadi bagian solusi krisis ekologi. Jadikanlah kami alat-Mu yang setia berbakti kepada-Mu,demi Kristus, Tu-han kami.

U Amin.

Tanda Salib

P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus U Amin

Lagu Penutup
MB 489 “Betapa Kita Tidak Bersyukur” atau lagu lain yang sesuai.

Pertemuan 2

Bumi Lestari, Panggilan Illahi!(Kej.6:13-22;7:11-17)

Tujuan :

  1. Peserta memahami bahwa lestarikan bumi (lingkungan hidup) adalah panggillan ilahi.
  2. Peserta menanggapi panggilan illahi untuk lestarikan bumi dengan tindakan nyata.

Waktu : 90 Menit

Gagasan Dasar :

Kebanyakan cerita Alkitab hanyalah tentang Allah dan ma-nusia, karya Allah untuk keselamatan manusia. Kisah Nuh ini berbeda. Setelah menceritakan bahwa kejahatan manusia merusakkan juga seluruh ciptaan Allah lainnya, sekarang diceritakan bahwa Allah berupaya menyelamatkan manusia bersama makhluk hidup lainnya. Ia menyelamatkan seluruh makhluk hidup, bukan hanya karena mereka berguna bagi manusia tetapi karena semuanya memiliki nilai tersendiri bagi Allah yang mengasihi apa pun yang diciptakan-Nya.

Tidak seluruh alam ciptaan berperan dalam kisah Nuh; han-ya makhluk yang hidup di bumi akan mati di dalam air. Ikan-ikan dan makhluk air lainnya yang sekarang paling terancam di sungai dan laut yang tercemar, tidak muncul dalam kisah Nuh sebab tidak terancam air bah. Juga pohon dan tanaman lainnya yang begitu menentukan untuk keseimbangan eko-sistem, dalam kisah Nuh tidak muncul sebab dalam ekologi Israel kuno tumbuhan-tumbuhan tidak dipandang sebagai makhluk hidup tersendiri tetapi menyatu dengan tanah (Kej. 1:12). Akar-akarnya dan benihnya bertahan hidup bila ditu-tupi banjir, dan dengan sendirinya akan bertunas lagi setelah air surut, sebagaimana tampak dari helai daun zaitun segar yang akan dibawa merpati kepada Nuh (Kej. 8:11).

Biarpun tidak muncul dalam kisah Nuh, namun perusakan dan pelestarian flora bumi dan makhluk air hendaknya tetap menjadi perhatian kita dalam merenungkan pesan kisah air bah untuk keadaan sekarang. Cerita pemusnahan segala makhluk hidup diawali, diselingi, dan disusul oleh bagian-bagian cerita tentang Allah yang menyelamatkan keluarga Nuh; dan melibatkan Nuh dalam membangun sebuah bahtera sebagai rumah (oikos) bagi segala spesies yang hendak diselamatkan. Nuh, orang benar yang diingat oleh Allah, menjadi simbol pelestarian alam ciptaan. Cerita ini memupuk harapan baru dan mendorong orang melibatkan diri dalam menghadapi krisis global yang kita alami.

Pertama, kita diberi harapan bahwa kerusakan bumi, kepunahan spesies, perubahan iklim, dll., akibat kecerobohan manusia sendiri, dapat dibalikkan. Seperti Nuh, kita dapat menanggapi panggilan Tuhan untuk turut melestarikan bumi dan semua spesies yang terancam. Kita dapat melakukannya dengan membangun “bahtera”, memulihkan habitat spesies-spesies itu: hutan, air, sungai, laut, tanah, udara. Sosok Nuh yang membangun bahtera demi menyelamatkan segala macam makhluk hidup, menjadi lambang ulung bagi kegiatan kita untuk melestarikan lingkungan hidup bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri tetapi juga demi ketahanan hidup makhluk lain.

Kedua, cerita ini memupuk harapan kepada Allah. Nuh da-pat menyelamatkan segala jenis makhluk yang terancam itu, dalam kepercayaan dan ketaatan kepada Allah, Sang Pencip-ta, yang tetap mau memelihara ciptaan-Nya yang terancam itu. Harapan kepada Pencipta itu mungkin jarang ditampak-kan oleh para ekolog sekular, padahal sangat menguatkan perjuangan untuk pelestarian lingkungan hidup. Manusia yang menyadari dirinya diutus dan dilibatkan oleh Allah yang dengan setia bekerja untuk keberlanjutan karya ciptaan-Nya, mendasari sebuah spiritualitas yang mendorong tindakan ekologis. Komitmen Allah itu akan menjadi tema utama da-lam lanjutan kisah Nuh (Kej. 8-9).

Pembuka

Lagu Pembuka
MB 471 “Alangkah Megah“ atau lagu lain yang sesuai

Tanda salib dan Salam
P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus U Amin
P Tuhan beserta kita
U Sekarang dan selama lamanya

Pengantar
Infokan lagi keterangan yang relevan pada pengantar pertemuan 1 (lih pengantar sub-tema 1)

Doa Pembuka
P Marilah berdoa

Allah Bapa kami yang penuh kasih,pantas dan layak kami bersyukur kepada-Mu. Kami bersyukur Kau cipta kami sebagai manusia. Kami bersyukur Kau selenggarakan hi-dup kami bersama aneka benda, tanaman dan binatang. Kami bersyukur saat ini Kauperkenankan bersekutu da-lam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Kami bersyukur berkesempatan untuk mendalami krisis ekologis, krisis lingkungan hidup seturut terang Sabda-Mu. Kami per-caya Engkau berkati kami dengan kuasa Roh Kudus se-hingga kami dapat mengikuti pembahasan tema BKSN ini sepenuh hati. Terlebih kami mampu mewujudkan kehendak-Mu untuk hidup sebagai orang benar menjadi bagian solusi krisis ekologis, demi Kristus, Tuhan kami.

U Amin

Pendalaman Pengalaman Hidup

Lestari Alamku (Gombloh)
Lestari alamku,lestari desaku dimana Tuhanku menitipkan aku Nyanyi bocah-bocah di kala purnama nyanyikan pujaan untuk nusa
Damai saudaraku suburlah bumiku kuingat ibuku dongengkan cerita Kisah tentang jaya Nusantara lama tentram kartaraharja di sana

Reff:
Mengapa tanahku rawan ini
bukit bukit pun telanjang berdiri Pohon dan rumput enggan bersemi kembali burung-burung pun malu bernyanyi Kuingin bukitku hijau kembali
semak rumput pun tak sabar menanti Doa kan kuucapkan hari demi hari kapankah hati Ini kapan lagi
Lestari alamku, lestari desaku dimana Tuhanku menitipkan aku Nyanyi bocah-bocah di kala purnama nyanyikan pujaan untuk nusa
Lestari alamku, lestari desaku dimana Tuhanku menitipkan aku Kami kan bernyanyi dipurnama nanti nyanyikan bait padamu negeri
Damai saudaraku suburlah bumiku kuingat ibuku dongengkan cerita Kisah tentang jaya Nusantara lama tentram kartaraharja di sana

https://www.youtube.com/watch?v=7yc2DdL3LAg

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Nyanyi bersama lagu “Lestari Alamku”
  2. Rembugan, “glenak-glenik” dengan kanan kirinya, men-jawab pertanyaan di bawah
  3. Sampaikan hasil “glenak-glenik”nya (beberapa peserta)

Pertanyaan untuk “glenak-glenik” :

  1. Bagaimana gambaran keadaan nusantara lama dengan nusantara “baru”?
  2. Apa tindakan yang perlu untuk mewujudkan nusantara “lama”?

Penjelasan
Pemandu menyimpulkan hasil “glenak-glenik” :

  1. Gambaran keadaan nusantara lama : jaya tentram kar-taraharja, lestari alamnya, lestari desanya, nyanyi bocah di kala purnama, nyanyi pujaan nusa, damai bersaudara, subur buminya. Ada keadaan harmonis dalam kehidupan ber-sama dengan lingkungan hidupnya. Alam yang lestari, subur tanahnya, hidup bersama dalam perdamaian dan persaudaraan, adalah hidup yang laras dan pas sebagai manusia.Sedangkan keadaan nusantara “baru” : tanah rawan, bukit bukit telanjang berdiri, pohon dan rumput eng-gan bersemi kembali, burung-burung malu bernyanyi.
  2. Dambaan dan harapan terjadinya harmonisasi kehidu-pan bersama sesama dan makhluk lain tidak selalu terwujud. Alam dengan bukit yang kering kerontang gersang merupakan kenyataan hidup tak laras dengan dambaan dan harapan manusia. Dalam rangka memenuhi dambaan dan harapan manusia akan harmonisnya kehidupan, bersama manusia dan alam semesta, muncullah perintis dan pejuang pelestari harmonisasi alam Tidak berhenti pada “Doa kan kuucapkan hari demi hari”. Sebagai info sampah rumah tangga, untuk wilayah Yogyakarta, Sleman, dan Bantul (Kartamantul) yang di buang di TPA Piyungan setiap hari hampir 500 ton. Kesadaran melakukan pemilahan belum optimal. Tetaplah perlu mewujudkan tiga prinsip pengelolaan dan pemanfaatan limbah reuse : penggunaan kembali; reduce : mengurangi terjadinya sampah, dan recycle : mendaur ulang.

Pendalaman Kitab Suci

Pembacaan Kitab Suci (Kej. 6:13-22; 7:11-17)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Baca teks (Kej. 6: 13-22; 7:11-17) secara pribadi dalam hati
  2. Baca teks (Kej. 6: 13-22; 7:11-17) secara bergantian ayat perayat

6:13Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan un-tuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan me-reka bersama-sama dengan bumi. 14Buatlah bagimu sebuah bah-tera dari kayu gofir. Bahtera itu harus kaubuat bersekat-sekat dan harus kaulapisi dengan ter di sebelah luar dan dalam. 15Beginilah harus kau buat bahtera itu: tiga ratus hasta panjang-nya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. 16Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambung-nya. Buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah, dan atas. 17Sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala makhluk yang bernafas hidup di ko-long langit; segala yang ada di bumi akan binasa. 18Tetapi, Aku akan membuat perjanjian-Ku denganmu. Engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama dengan anak-anakmu,istrimu, dan istri anak-anakmu. 19Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya ber-sama engkau; jantan dan betina harus kaubawa. 20Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis bina-tang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. 21Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan. Kumpulkan-lah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mer-eka.” 22Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

7:11Ketika Nuh berumur enam ratus tahun, di bulan kedua, pada hari ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah pecahlah segala mata air lautan besar di bawah bumi dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. 12Dan turunlah hujan lebat atas bumi selama empat pu-luh hari empat puluh malam. 13Pada hari itulah juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan istri Nuh, serta ketiga istri anak-anaknya, ke dalam bahtera itu, 14bersama mereka juga segala jenis binatang liar dan segala jenis hewan dan segala jenis binatang yang merayap di bumi dan segala jenis burung, segala unggas yang bersayap. 15Segala makhluk yang ber-nafas hidup datang sepasang demi sepasang kepada Nuh dalam bahtera itu. 16Semua yang datang, jantan dan betina dari segala makhluk, masuk seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh. 17Selama empat puluh hari air bah itu meliputi bumi. Air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga terangkat tinggi dari bumi.

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Membentuk kelompok kecil (5-10 peserta)
  2. Mensharingkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut, dalam kelompok:

A. Bagaimana gambaran orang beriman tentang har-monisasi lingkungan hidup?
B. Siapa yang dapat memberi solusi sejati untuk har-monisasi lingkungan hidup?

Penjelasan
Pemandu menyimpulkan hasil sharing kelompok, sebagai berikut :

  1. Gambaran orang beriman terkait harmonisasi ling-kungan hidup: “…masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan istri Nuh, serta ketiga istri anak-anaknya, ke dalam bahtera itu, bersama mereka juga segala jenis binatang liar dan segala jenis hewan dan segala jenis binatang yang merayap di bumi dan se-gala jenis burung, segala unggas yang bersayap. Segala makhluk yang bernafas hidup datang sepasang demi sepasang kepada Nuh dalam bahtera itu. Semua yang datang, jantan dan betina dari segala makhluk, masuk seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh. Selama empat puluh hari air bah itu meliputi bumi. Air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga terang-kat tinggi dari bumi” (7: 13 -17). Kisah Nuh merupakan teks Alkitab paing jelas bahwa Allah menyelamatkan manusia bersama makhluk hidup lainnya. Ia menye-lamatkan mereka semua, bukan hanya karena mereka berguna bagi manusia tetapi karena semuanya memiliki nilai tersendiri bagi Allah yang mengasihi apa pun yang diciptakan-Nya. Inilah harmonisasi lingkungan hidup
  2. Pemberi solusi harmonisasi lingkungan hidup : Allah dan orang-orang yang benar dihadapan-Nya, yang mau melakukan kehendak-Nya.

A. “… Aku akan membuat perjanjian-Ku denganmu. Engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau ber-sama dengan anak-anakmu, istrimu, dan istri anak-anakmu….Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir. Bahtera itu harus kaubuat bersekat-sekat dan harus kaulapisi dengan ter di sebelah luar dan dalam. Beginilah harus kaubuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya. Buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah, dan ata”(6:13 -16)

B. “.. Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilaku-kannya…” (6:22) “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh berjalan bersama Allah” (6:9)

Dalam keadaan krisis bumi, manusia dipanggil untuk membangun sebuah rumah (oikos, eko) menjadi tem-pat pengungsian dan perlindungan bagi yang terancam punah. Nuh bersama bahtera menjadi model pelestar-ian makhluk hidup yang terancam. Kita pun dipanggil Tuhan untuk turut menyelamatkan keanekaragaman hayati yang sekarang terancam punah; dipanggil untuk menyediakan ‘bahtera-bahtera kita’ demi perlindungan serta pelestarian keanekaragaman hayati. Akan selalu muncul “sisa kecil” orang benar yang berjalan bersama-Nya seperti Nuh menanggapi seruan penyelamatan lingkungan. Kaum muda dapat menjadi bagian “sisa kecil” yang layak menjaga kelestarian lingkungan hidup demi masa depan yang lebih baik dan optimis.

Aksi
Pemandu mengajak peserta :

  1. Menyebutkan point-point kesimpulan “glenak-glenik” (Pendalaman Pengalaman Hidup)
  2. Menyoroti point-point tersebut dengan kesimpulan “sharing” kelompok (Pendalaman Kitab Suci)
  3. Menemukan krisis ekologis di daerahya, mencermati sikap dan tindakan terhadapnya.
  4. Menjawab pertanyaan reflektif:

A. Adakah peneguhan atas gambaranku tentang har-monisasi lingkungan hidup?
B. Adakah koreksi atas gambaranku tentang har-monisasi lingkungan hidup?
C. Adakah inspirasi untuk membangun “bahtera” se-bagai Nuh masa kini,di sini?

Surat Dari Tuhan (EsDeTUA)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Hening, berimajinasi bahwa Tuhan sejak awal hingga akhir proses pendampingan BKSN memperhatikan ket-erlibatan Anda
  2. Tulis “Surat Dari Tuhan untuk Anda” (EsDeTUA) terkait krisis ekologis di daerahnya.
  3. Bacakan EsDeTUA-nya (beberapa saja)
  4. Doa “Bapa Kami.” (bersama) Lihat animasi (jika mungkin) https://youtu.be/Ud_T-cuaTXw

Penutup

Doa Penutup

P Marilah berdoa.
Yang Maha Pengasih, kami bersyukur kepada-Mu atas Sabda-Mu yang telah Kaunyatakan kepada kami. Sabda yang meneguhkan perilaku peduli kami terhadap lingku-ngan sekitar. Sabda yang menegur kerapuhan kami yang kerap abai dan jahat terhadap lingkungan hidup kami. Dan Sabda yang mengilhami kami untuk berbuat sesuatu demi kelangsungan lingkungan hidup kami. Jadikanlah kami alat-Mu untuk melakukan kehendak-Mu sebagai putra-putri-Mu yang setia berbakti kepada-Mu. Demi Kristus, Tuhan kami.
U Amin.

Tanda Salib
P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. U Amin.

Lagu Penutup
MB 518 “Gereja Bagai Bahtera” atau lagu lain yang sesuai.

 

Pertemuan 3

Barui Bumi, Karya Illahi!(Kej.8:1-5,8-19)

Tujuan :

  1. Peserta menyadari pandangan orang beriman terkait alasan Allah membarui bumi.
  2. Peserta menemukan peluang memulihkan kerusakan alam, sebagai tanda citra-Nya.

Waktu : 90 Menit

Gagasan Dasar :
Allah itu “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlim-pah kasih setia-Nya.” Kisah Nuh menyatakan kesetiaan dan belas kasih Allah terhadap manusia berdosa dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang telah rusak. Allah yang telah me-nyelamatkan Nuh dan makhluk-makhluk lain dalam bahtera, mengingat mereka, lalu menciptakan kembali bumi menja-di tempat hidup mereka. Sudah beberapa kali dalam sejarah bumi ketika bencana vulkanis global atau benturan meteor memusnahkan sebagian besar makhluk hidup, Allah Pencipta menunjukkan kesetiaan-Nya dengan terus mengadakan evo-lusi yang melahirkan banyak jenis dan spesies yang baru, di antaranya kita, manusia.

Sekarang kita sekali lagi berada dalam krisis bumi, kali ini akibat kegiatan manusia sendiri. Dengan mengeruk bumi se-cara rakus, manusia telah mendatangkan hukuman atas di-rinya sendiri. Di bumi telah terjadi degradasi lingkungan hidup, pencemaran tanah, air dan udara, perubahan iklim yang dapat menimbulkan bencana lebih dahsyat. Melalui kisah Nuh, Allah mengatakan kepada kita bahwa sekalipun manu-sia telah berdosa, Allah tetap setia terhadap bumi dan segala yang hidup di atasnya. Allah tetap berkomitmen membarui bumi di tengah perusakan yang dilakukan oleh manusia pa-danya.

Kesetiaan-Nya itu memanggil kita kepada pertobatan ekolo-gis; dan menguat-kan kita untuk “mengerjakan dan memeli-hara” bumi dengan cara yang lebih baik, lebih sesuai dengan irama dan hukum alam yang diletakkan Allah di dalam karya ciptaan-Nya. Didukung oleh tindakan penciptaan Allah yang terus berjalan, kita dapat menjaga dan memulihkan keutuhan ekosistem. Kita dipanggil menjadi seperti Nuh mau bekerja sama, memantau perkembangan, menemukan momen-mo-men yang diberikan oleh Allah, dan melangkah keluar untuk memulihkan apa yang sudah kita rusak.

Pembuka

Lagu Pembuka
MB 488 “Syukur Bagi-Mu ya Tuhan“ (ay. 1-2) atau lagu lain yang sesuai.

Tanda salib dan Salam
P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus U Amin
P Tuhan beserta kita
U Sekarang dan selama lamanya

Pengantar
Infokan lagi keterangan yang relevan pada pengantar pertemuan 1 (lih pengantar subtema 1)

Doa Pembuka
P Marilah berdoa.
Segala puji dan syukur bagi-Mu, Allah yang penuh kasih. Kami bersyukur atas kasih-Mu yang senantiasa menyer-tai kami bersama segala makhluk-Mu. Kami bersyukur karena Kauperkenankan kembali bersekutu untuk men-dalami tema BKSN. Kau kehendaki agar kami mengala-mi karya pembaharuan-Mu terhadap kehidupan semesta ini. Semoga lewat pertemuan ini, kami semakin mampu melihat karya agung-Mu, memulihkan kembali segala se-suatu yang rusak dalam alam ini lewat berbagai peristiwa alam, demi Kristus Tuhan kami.
U Amin.

Pendalaman Pengalaman Hidup

https://regional.kompas.com/read/2018/11/21/18003211/infografik-sampah-plastik-dalam-perut-paus-yang-mati-di-wakatobi

Teguran buat Kita, Paus yang Mati di Wakatobi Tercemar 5 Kg Plastik

Tim gabungan tengah mengukur panjang bangkai paus di Perairan Wakatobi. Foto istimewa (Bangkai paus yang mati terdampar di perairan Wakatobi diukur petugas gabungan) KOMPAS.com – Paus sperma sepanjang 9,5 meter ditemukan terdampar di perairan Desa Kapota, Kecamatan Wangiwangi Selatan (Wangsel), kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (19/11/2018). Saat ditemukan, paus itu sudah mati dan membusuk. Seorang petugas Yayasan Wakatobi menduga paus tersebut mati beberapa hari lalu, “Melihat kondisinya yang hancur, kira-kira sudah dua minggu paus itu mati,” kata Saleh Hanan dihubungi Senin (19/11/2018). Saleh mengatakan, di dalam perut paus ditemukan berbagai sampah plastik. Mulai dari botol, penutup galon, sandal, botol parfum, bungkus mie instan, gelas minuman, tali rafia, karung terpal, kantong kresek, dan lainnya.

Menurut Saleh, ditemukannya paus mati terdampar dan adanya sampah plastik di dalam perut maka secara ilmiah hal tersebut dapat menjelaskan terjadinya disorientasi naviga-si paus. Di mana paus tidak mampu membedakan makanan dan non makanan, atau habitatnya sudah tercemar sampah.

https://sains.kompas.com/read/2018/11/20/161522123/teguran-buat-kita-paus-yang-mati-di-wakatobi-tercemar-5-kg-plastik.

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Cermati berita Ikan paus yang mati di Wakatobi tercemar 5 kg plastik.
  2. Rembugan, “glenak-glenik” dengan kanan kirinya, men-jawab pertanyaan di bawah
  3. Sampaikan hasil “glenak-glenik”nya (beberapa peserta)

Pertanyaan untuk “glenak-glenik”:

  1. Bagaimana gambaran orang beriman tentang harmoni-sasi lingkungan hidup?
  2. Siapa yang dapat memberi solusi sejati untuk harmonisasi lingkungan hidup?

Penjelasan
Pemandu menyimpulkan hasil “glenak-glenik”:

  1. Ditemukannya paus mati terdampar dan adanya sampah plastik di dalam perut maka secara ilmiah hal tersebut dapat menjelaskan terjadinya disorientasi navigasi paus. Di mana paus tidak mampu membedakan makanan dan non makanan, atau habitatnya sudah tercemar sampah. Ada banyak sampah plastik yang hanyut ke laut. Hal ini membahayakan mahkluk hidup yang ada di laut. Sampah plastik sulit terurai butuh waktu yang sangat lama. Waktu paling singkat, 10-20 tahun untuk teru-rai adalah kantong plastik. Sedangkan yang paling lama botol plastik butuh waktu 450 tahun. Sampah plastik di laut membahayakan mahkluk hidup di dalamnya. Mengganggu pencernaan, meracuni, melukai hewan laut, mengganggu mangrove dan terumbu karang, membawa dampak negatif bagi manusia yang mengkonsumsi he-wan laut. Peristiwa ikan paus yang mati dengan sampah plastik di perutnya mengkoreksi perilaku kita.
  2. Menjadi manusia bijak adalah menjadi manusia yang dituntun kesadaran akan dampak setiap tindakannya, sehingga terkendali dan manusiawi. Alam dan ling-kungan hidup merupakan rumah bagi segala ciptaan. Memelihara, merawat dan menjaganya tanggung jawab kita baik secara individu maupun kolektif. Secara indi-vidu, bertanggung jawab agar anak cucu kelak juga menikmati hak-haknya terhadap lingkungan. Dan se-cara kolektif, generasi sekarang bertanggung jawab un-tuk mewariskan lingkungan ini kepada generasi berikut-nya. Alam lingkungan tidak sekadar sebagai “warisan” dari “nenek moyang”, tetapi lebih sebagai “pinjaman” dari “anak cucu” kita. Maka pada tempat pertama, kita terlebih dulu berdamai dengan lingkungan hidup. Men-ciptakan relasi berlandaskan etika persaudaraan kos-mis, sikap hormat, perhatian, rendah hati, syukur, rela berbagi dan simpatik terhadap lingkungan hidup, dan bukan sikap mendominasi atas sesama ciptaan lainnya. Manusia bijak manusia yang melakukan pertobatan ekologis. Pertobatan ekologis adalah segala upaya dan tindakan untuk menciptakan keutuhan seluruh ciptaan. Pertobatan ini menunjuk pada suatu perjuangan untuk menemukan kembali kesadaran dan sikap kita yang be-nar terhadap lingkungan hidup. Masihkan kita dapat hidup dengan bijak dan arif terhadap lingkungan hidup di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari ?

Pendalaman Kitab Suci

Pembacaan Teks Kitab Suci (Kej. 8:1-5, 8-19)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Baca teks (Kej. 8:1-5, 8-19) secara pribadi dalam hati
  2. Baca teks (Kej. 8:1-5, 8-19) secara bergantian ayat perayat

8:1Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar serta segala ter-nak yang bersama dia dalam bahtera itu, lalu Allah membuat an-gin bertiup di atas bumi, sehingga air itu surut. 2Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan ber-hentilah hujan lebat dari langit, 3dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari. 4Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ara-rat. 5Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tam-paklah puncak-puncak gunung.

8Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. 9Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulan-glah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. 10Ia menunggu tujuh hari, kemudian burung merpati itu dilepas-nya lagi dari bahtera. 11Menjelang senja burung merpati itu kem-bali kepada Nuh dengan sehelai daun zaitun segar di paruhnya, sehingga Nuh mengetahui bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi. 12Setelah menunggu tujuh hari lagi, ia melepas burung mer-pati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya. 13aPada tahun keenam ratus satu, di bulan pertama, pada tanggal satu bu-lan itu, air itu sudah kering dari atas bumi.

15Berfirmanlah Allah kepada Nuh: 16”Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama istrimu, anak-anakmu, dan istri anak-anakmu; 17segala binatang yang bersama engkau, segala makhluk: burung-burung, hewan, segala binatang yang melata di bumi. Suruhlah mereka keluar bersama engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” 18Lalu keluarlah Nuh bersama anak-anaknya, istrinya, dan istri anak-anaknya. 19Juga segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semua yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluar dari bahtera itu.

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Membentuk kelompok kecil (5-10 peserta)
  2. Mensharingkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut, dalam kelompok :

Pertanyaan untuk “glenak-glenik”:

  1. Bagaimana orang beriman menggambarkan peranan Allah dalam kerusakan lingkungan?
  2. Apa yang dapat kita lakukan sebagai citra-Nya dite-ngah peristiwa kerusakan lingkungan?

Penjelasan
Pemandu menimpulkan hasil sharing kelompok :

  1. Setelah sekian lama air bah menggenangi Bumi, Allah mengingat Nuh dan segala makhluk di dalam bahtera. Ia menutup mata-mata air samudera raya serta menutup kembali tingkap-tingkap di langit. Dengan tiupan angin juga Allah membuat air surut. Puncak-puncak gunung pun menjadi tampak dan bahtera terkandas di Pegunun-gan Ararat. Allah sudah menjadikan kembali bumi dan menyediakan tempat hidup bagi Nuh dan keluarganya serta makhluk-makhluk hidup lainnya. Orang beriman menggambarkan Allah penuh kasih,peduli dan memba-rui kembali kehidupan. Alam dengan daya kreasi memperbaiki dirinya menampakkan karya Sang Kreator yang memperbarui bumi. Membaharui bumi, memper-tahankan kelangsungan kehidupan bumi adalah karya illahi yang tiada kenal henti!
  2. Untuk mengetahui bahwa air bah sudah surut, Nuh bekerja sama dengan mahkluk lain, yaitu burung mer-pati. Ketika burung merpati kembali dengan membawa sehelai daun zaitun yang segar, Nuh menjadi yakin bahwa tanah telah menumbuhkan tunas-tunas muda. Allah memerintahkan Nuh keluar dari bahtera bersama dengan keluarganya serta seluruh binatang yang ada di bahteranya. Merekalah penghuni Bumi yang telah diciptakan kembali oleh Allah. Kemudian Allah me-nyatakan kehendak-Nya agar semua binatang itu ber-keriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak. Demikian juga kepada Nuh dan keluarganya Allah berfirman, “Beranakcuculah dan bertambah ban-yaklah serta penuhilah bumi” (Kej. 9:1; bdk. Kej. 1:22). Siap sedia menjadi pelaku-pelaku yang melahirkan dan melipatgandakan jumlah generasi baru yang yang me-menuhi bumi dengan semangat pertobatan ekologis, merupakan pelajaran kehidupan yang dapat dipetik dari kisah ini. Peka terhadap peristiwa alam sebagai tanda-tanda kehadiran-Nya, membantu mempermudah men-cari dan menemukan peluang terlibat dalam pemulihan kerusakan lingkungan. Dengan begitu ke-citra Allah-an menjadi aktual, real dan relevan.

Aksi
Pemandu mengajak peserta :

  1. Menyebutkan point-point kesimpulan “glenak-glenik” (Pendalaman Pengalaman Hidup)
  2. Menyoroti point-point tersebut dengan kesimpulan “sharing” kelompok (Pendalaman Kitab Suci)
  3. Menemukan peristiwa-peristiwa kerusakan lingkungan di sekitar.
  4. Menjawab pertanyaan reflektif:

A. Adakah peneguhan atas pandangan tentang pe-ran Allah yang tiada henti membaharui dan me-nyelamatkan bumi lewat berbagai peristiwa alam?
B. Adakah koreksi atas sikap masa bodohku terhadap peristiwa perusakan bumi?
C. Adakah inspirasi untuk terlibat dalam karya illahi, menemukan peluang “keluar dari bahtera” ku un-tuk ikut memulihkan kerusakan bumi?

Surat Pembaca (EsPe)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Hening, berimajinasi bahwa Tuhan sejak awal hingga akhir proses pendampingan BKSN memperhatikan ke-terlibatan Anda
  2. Tulis “Surat Pembaca” (EsPe) terkait kerusakan ling-kungan yang di-lihatnya.
  3. Bacakan EsPe-nya (beberapa saja) dan kirimkan ke harian Kompas, KR, dll
  4. Doa “Bapa Kami.” (bersama)
  5. Lihat animasi (jika mungkin) https://www.youtube.com/watch?v=hTjYoFsSWq0

Penutup

Doa Penutup
P Marilah berdoa.
Yang Maha Pengasih, kami bersyukur kepada-Mu atas Sabda-Mu yang telah Kaunyatakan kepada kami. Sabda yang meneguhkan perilaku peduli kami terhadap lingkun-gan sekitar. Sabda yang menegur kerapuhan kami yang kerap abai dan jahat terhadap lingkungan hidup kami. Dan Sabda yang mengilhami kami untuk berbuat sesuatu demi kelangsungan lingkungan hidup kami. Jadikanlah kami alat-Mu untuk melakukan kehendak-Mu sebagai putra-putri-Mu yang setia berbakti kepada-Mu. Demi Kristus, Tuhan kami.
U Amin.

Tanda Salib
P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus U Amin

Lagu Penutup
MB 478 “Alangkah Megah” atau lagu lain yang sesuai.

 

Pertemuan 4

Saudara Bumi, Janji Illahi!(Kej.8:20-9:17)

Tujuan :

  1. Peserta memahami gambaran orang beriman mengenai Allah yang setia pada perjanjian-Nya.
  2. Peserta menyadari kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya sebagai spirit gaya hidup baru ramah lingkungan untuk menanggapi krisis ekologi.

Waktu : 90 Menit

Gagasan Dasar :
Sesudah air bah surut, Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh dan semua makhluk. Ia berjanji untuk tidak lagi memusnahkan bumi dengan air bah meskipun manusia tetap berbuat jahat. Allah menghendaki manusia dengan baik-buruknya tetap mengisi dan merawat bumi sebagai tempat tinggalnya. Ia tetap menghendaki agar manusia beranak cucu dan bertambah banyak dan memenuhi bumi. Perjanjian ini disertai dengan tanda: Allah menaruh busurNya di langit, yaitu pelangi, untuk mengingatkan manusia akan janji Allah dan untuk mengingatkan diri-Nya sendiri akan janji itu.

Janji Allah terhadap hidup di bumi itu disertai piagam perjanjian, peraturan-peraturan yang perlu dipegang oleh manusia. Hubungan antara manusia dan makhluk hidup lain-nya diatur kembali. Sebelumnya, Allah mengatur pemberian makanan: kepada manusia diberikan biji-bijian dan buah-buahan sebagai makanan dan kepada makhluk hidup lain diberikan tumbuh-tumbuhan hijau (Kej. 1:29-30). Sekarang, Allah memberikan kelonggaran kepada manusia: mereka diperbolehkan makan daging binatang yang hidup di bumi, burung di udara, dan ikan di laut. Tetapi, kelonggaran itu tidak berarti bahwa manusia boleh bertindak sewenang-wenang terhadap makhluk lain; misalnya berburu hanya untuk kesenangan. Mereka diperbolehkan makan daging bi-natang, tetapi itu pun dengan batasan tertentu. Daging yang masih ada darahnya tidak boleh dimakan karena darah, yaitu nyawa makhluk, adalah milik Allah.

Karena janji Allah ini kita tetap yakin akan keberlanjutan hi-dup di bumi di tengah banyak ancaman. Kekerasan manusia terhadap bumi pada masa sekarang (eksploitasi, pencemaran, dan perusakan) menimbulkan banyak kecemasan, tetapi per-janjian Allah ini memberi kita keteguhan iman bahwa Sang Pencipta sendiri tetap berkarya untuk pemekaran kehidupan. Sementara kejahatan dan kekerasan sendiri tak bisa dihapus tanpa memusnahkan hidup sendiri, dituntut pembatasan da-lam kelonggaran yang diberikan.

Dunia memerlukan hukum lingkungan hidup, petunjuk-pe-tunjuk pelaksanaan, serta sanksi-sanksi penegakan. Pada ting-katan internasional, nasional, dan lokal diperlukan peraturan hukum yang membendung kerakusan dan kekerasan manusia terhadap bumi. Bila para politisi enggan menyusunnya kar-ena takut kehilangan suara pada pemilihan berikut, rakyat yang sadar akan kerugian harus mendesak pemerintahannya untuk membuat dan menerapkan peraturan hukum lingkun-gan itu. Kita tidak boleh menunggu atau netral di mana hidup di bumi terancam.

Manusia abad 21 sangat banyak jumlahnya, dan ada yang memiliki kemampuan teknis dan ekonomis untuk meningkat-kan kesejahteraannya hampir tanpa batas. Karena itu, perlu ditetapkan batas-batas, misalnya dalam penggunaan sumber daya alam, kuantitas dan cara produksi, kebebasan pasar, dan tingkatan konsumsi. Tanpa membatasi diri, 7,5 miliar ma-nusia sekarang yang bisa menjadi 10 miliar pada akhir abad ini, menjadi ancaman besar bagi hidup di bumi. Kita harus belajar dan diatur untuk membatasi diri dalam mengambil habitat satwa dan flora yang terancam punah, entah untuk pe-rumahan dan jalan, atau untuk pertanian monokultur, bisnis perkebunan, peternakan masal, yang biasanya melayani ke-pentingan segelintir pengusaha dan mendorong hidup boros masyarakat. Saat ini diperlukan peraturan dan penegakannya untuk memulihkan mutu air sungai, danau, dan laut yang kita racuni dengan limbah kimia, sampah, plastik, dll., dengan akibat bahwa stok ikan, sumber protein utama bangsa kita, sangat terancam.

Aturan saja tidak cukup bila manusia tidak termotivasi dan juga mampu melakukannya. Karena itu, diperlukan pendidi-kan dan spiritualitas ekologis, latihan gaya hidup baru yang ramah lingkungan, pilihan hidup sederhana yang didorong oleh tradisi agama kita (LS 6). Setiap langkah pelestarian lingkungan hidup yang kita latih dan tekuni, sendirian dan bersama sekecil apapun akan sangat berarti, pertama-tama sebagai tanda yang membuka mata dan hati orang lain. Makin banyak orang diberi motivasi dan contoh untuk sep-erti Nuh melibatkan diri dalam karya Allah Pencipta yang terus mengembangkan hidup di bumi, makin besar harapan-nya bagi bumi kita.

Pembuka

Lagu Pembuka
MB 468 “Agunglah Nama Tuhan” atau lagu https://www.youtu.be/_CVGrsSHD9Q jadikan dunia lebih indah

Tanda Salib dan Salam
P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus U Amin
P Tuhan beserta kita
U Sekarang dan selama lamanya

Pengantar
Infokan lagi keterangan (lih pengantar sub-tema 1) yang relevan untuk pengantar pertemuan IV

Doa Pembuka

P Marilah berdoa.
Puji syukur bagi-Mu Allah yang penuh kasih. Kami ber-syukur boleh kembali berkumpul bersama mendalami tema BKSN. Kami bersyukur atas kesempatan untuk me-nemukan pengalaman iman alkitabiah terkait kesetiaan-Mu. Engkaulah Allah yang setia pada janji. Semoga kesadaran ini sungguh dapat menjadi semangat dasar membina gaya hidup alternatip, gaya hidup bersaudara dengan semua makhluk-Mu, demi Yesus Kristus, Tuhan kami.
U Amin.

Pendalaman Pengalaman Hidup

GITA SANG SURYA

Yang Mahaluhur, Mahakuasa, Tuhan yang baik, milik-Mulah pujaan, kemuliaan dan hormat dan segala pujian …..
….. Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhlukMu,
terutama Tuan Saudara Matahari; dia terang siang hari,
melalui dia kami Kauberi terang ……
……Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena Saudari Bulan dan bintang-bintang,
di cakrawala Kaupasang mereka, gemerlapan, megah dan indah.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Angin, ….
… dengannya Engkau menopang hidup makhluk ciptaan-Mu.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Air; dia besar faedahnya, selalu merendah, berharga dan murni.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudara Api,
dengannya Engkau menerangi malam; …..
…..Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami Ibu Pertiwi;
dia menyuap dan mengasuh kami, …..
…..Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Maut badani,
daripadanya tidak akan terluput insan hidup satu pun ….
….. Pujalah dan pujilah Tuhanku,
bersyukurlah dan mengabdilah kepada-Nya dengan merendahkan diri serendah-rendahnya. Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226]

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Baca dan cermati kata-kata yang tercetak tebal.
  2. Rembugan, “glenak-glenik” dengan kanan kirinya, men-jawab pertanyaan di bawah
  3. Sampaikan hasil “glenak-glenik”nya (beberapa peserta)

Pertanyaan untuk “glenak-glenik”:

  1. Bagaimana dapat dijelaskan pengunaan sebutan “sau-dara-saudari” terhadap matahari, bulan, bintang, angin, api, bumi dan maut badani?
  2. Bagaimana membangun gaya hidup ekologis?

Penjelasan
Pemandu menyimpulkan hasil “glenak-glenik”:

  1. Sesungguhnya manusia begitu terhubung dan tergan-tung pada makhluk lainnya. Tanpa makhluk lain, tak mungkin manusia dapat hidup. Sedangkan makhluk lain, tanpa manusia tetap mampu bertahan hidup. Ini berarti manusia amat berhutang budi pada makhluk lain. Makhluk lain begitu berarti, berjasa menopang kehidupan manusia, berperan sebagai saudara. Maka layak dan pantas, manusia memanggilnya dengan sebu-tan persaudaraan. Misalnya : Eyang Kambing, Om An-jing, Tante Ayam, Dhik Sepatu, Mbak Baju, dll
  2. Kesadaran akan persaudaraan dengan makhluk lain, menjadi roh dasar membangun gaya hidup alternatif, gaya hidup ramah bersahabat dengan lingkungan, gaya hidup ekologis. Pembiasaan untuk menyebut “Bro Lap-top, Sis HP, Sedulur Papat Lima Pancer, Den Bagus Tikus, Kyai Macan, Ibu Pertiwi, Bapak Angkasa, dll” dalam per-gaulan hidup sehari-hari, lambat tapi pasti, di masamendatang, Saudara Bumi menjadi tanda Saudara Illa-hi. Semangat Illahi, menjadi semangat dasar bersahabat dengan Saudara Bumi.

Pendalaman Kitab Suci

Pembacaan Teks Kitab Suci (Kej. 8:20-9:17)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Baca teks (Kej. 8:20-9:17) secara pribadi dalam hati
  2. Baca teks (Kej. 8:20-9:17) secara bergantian ayat perayat

8:20Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN. Ia mengambil beberapa ekor dari segala hewan yang tidak haram dan dari se-gala burung yang tidak haram, dan mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 21Ketika TUHAN mencium bauan yang harum itu, berkatalah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku tidak akan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun rancan-gan hatinya adalah jahat sejak kecil, dan Aku tidak akan mem-binasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 22Selama bumi masih ada, tidak akan berhenti-henti musim me-nabur dan menuai, musim dingin dan panas, musim kemarau dan hujan, siang dan malam.”

9:1Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfir-man kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. 2Akan takut dan akan gentar kepadamu se-gala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmu-lah semuanya itu diserahkan. 3Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. 4Hanya daging yang masih bersama nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. 5Tetapi atas darahmu, yakni nyawamu, Aku akan menun-tut balas; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. 6Sia-pa menumpahkan darah manusia, darahnya akan ditumpahkan
oleh manusia, sebab menurut gambar Allah manusia dijadikan. 7Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya.”

8Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9”Sesungguhnya Aku membuat per-janjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10dan dengan segala makhluk hidup yang bersamamu: segala burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersamamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11Aku menetap-kan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini segala makhluk tidak akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” 12Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta sega-la makhluk yang hidup, yang bersamamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu men-jadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14Apabila Aku menda-tangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa. Tidak akan ada lagi air yang menjadi air bah untuk memusnah-kan segala makhluk. 16Jika busur itu ada di awan, Aku akan meli-hatnya, dan mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.” 17Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”

Pendalaman
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Membentuk kelompok kecil (5-10 peserta)
  2. Mensharingkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut, dalam kelompok :

Pertanyaan untuk sharing kelompok

  1. Bagaimana gambaran orang beriman mengenai Allah di tengah kerusakan lingkungan?
  2. Bagaimana menanggapi Allah yang diwartakan orang beriman itu?

Penjelasan
Pemandu menimpulkan hasil sharing kelompok :

Allah memberi perintah kepada Nuh dan anak-anaknya supa-ya mereka beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi. Allah juga memberikan berbagai aturan, yaitu tidak boleh membunuh sesama manusia, harus menghormati hidup makhkluk lain dengan tidak memakan daging yang masih mengandung darah. Jika peraturan dari Allah ini ditaati oleh manusia yang ada di alam semesta, lingkungan hidup tetap terpelihara dengan baik.

  1. Dalam perjanjian dengan Nuh dan semua makhluk hidup, Allah berjanji untuk tidak mendatangkan air bah yang memusnahkan bumi lagi. Sebaliknya, Ia akan menjaga kelangsungan hidup manusia dan makhluk di alam ini. Dalam perjanjian ini Allah mengikatkan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Perjanjian tersebut disertai dengan tanda yaitu busur yang ditaruh di awan. Kekerasan, kerusakan, kejahatan terhadap ling-kungan akan tetap ada. Ini tidak akan mengentikan kasih setia-Nya. Pelangi bagai busur itu sebagai senjata perang Allah melawan kekerasan di bumi. Allah men-gakhiri perang itu dengan menggantungkan busur-Nya di awan, melepaskan senjata-Nya. Dengan tanda itu membuat Allah mengingatkan diri-Nya untuk tidak memusnahkan bumi lagi dan memberikan jaminan kepada manusia bahwa hidup di bumi akan berkelanjutan.
  2. Kisah tentang air bah yang memusnahkan segala yang hidup, telah berubah menjadi kabar baik janji setia Tuhan untuk tetap melindungi segala yang hidup, turun temurun, mulai dari tindakan-Nya melalui Nuh. Ma-nusia diminta menanggapi kesetiaan Allah dengan me-matuhi apa yang oleh rabi-rabi disebut “piagam perjan-jian,” ketetapan-ketetapan Allah yang berlaku universal (Kis. 15:20).
  • Tidak membunuh sesama manusia,
  • Tidak membunuh makhluk lain sewenang-wenang, selain untuk kebutuhan makanan.
  • Tidak makan daging yang masih ada darahnya

Namun aturan saja tak cukup bila manusia tidak diberi pengertian serta motivasi dan diberdayakan untuk melakukannya. Bab 6 Ensiklik Laudato Si menekankan hal pendidikan dan spiritualitas ekologis, latihan ga-ya hidup yang ramah lingkungan. Setiap langkah pe-lestarian lingkungan hidup yang kita latih dan tekuni, sendirian dan bersama sekecil apa pun sangat berarti sebagai “pelangi dan busur”, tanda yang mengingatkan pada spirit Ilahi. Makin banyak orang diberi tanda, contoh, dan motivasi untuk melibatkan diri dalam pelestarian bumi, makin cerahlah harapan bagi bumi di tengah krisis saat ini. Sudah saatnya OMK mempunyai komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup di sekitarnya. Menjadi perintis gaya hidup ekologis.

Aksi
Pemandu mengajak peserta :

  1. Menyebutkan point-point kesimpulan “glenak-glenik” (Pendalaman Pengalaman Hidup)
  2. Menyoroti point-point tersebut dengan kesimpulan “sharing” kelompok (Pendalaman Kitab Suci)
  3. Menemukan peristiwa-peristiwa kerusakan lingkungan di sekitar.
  4. Menjawab pertanyaan reflektif:

A. Adakah peneguhan atas gambaran tentang Allah yang setia bersaudara pada relasi-Nya?
B. Adakah koreksi atas gaya hidup lama bersikap ja-hat terhadap bumi?
C. Adakah inspirasi untuk merintis gaya hidup ekol-ogis dengan membiasakan diri menyapa :”Eyang, Kung, Tri, Bapak, Ibu,Simbok, Om, Paklik, Pakdhe, Mas, Mbak, Dhik, dll” pada aneka hewan, tanaman dan benda saudara-Nya di sekitar?

Syiar Saudara Sejati (EsTeTi)
Pemandu menugaskan peserta :

  1. Hening, berimajinasi bahwa Tuhan sejak awal hingga akhir proses pendampingan BKSN memperhatikan ke-terlibatan Anda
  2. Buat tayangan video Syiar Saudara Sejati Tiga menitan (EsTeTi) untuk iklimisasi gaya hidup ekologis.
  3. Bagikan EsTeTi ke grup WhatsApp

Penutup

Doa Penutup
P Marilah berdoa.
Bapa, Yang Maha Pengasih, kami bersyukur kepada-Mu atas Sabda-Mu yang telah Kaunyatakan kepada kami. Sabda yang meneguhkan perilaku peduli kami terhadap lingkungan sekitar. Sabda yang menegur kerapuhan kami yang kerap abai dan jahat terhadap lingkungan hidup kami. Dan Sabda yang mengilhami kami untuk ber-buat sesuatu demi kelangsungan lingkungan hidup kami. Jadikanlah kami alat-Mu untuk melakukan kehendak-Mu sebagai putra-putri-Mu yang setia berbakti kepada-Mu. Demi Kristus, Tuhan kami.
U Amin.

Tanda Salib
P Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus U Amin

Lagu Penutup
MB 478 “Sungai Mengalir” atau lagu https://www.youtu.be/J6ZZ00DZr0

 

Download Bahan Pendalaman BKSN 2019

Leave a Reply